Kamis, 16 Februari 2012

ilmu pendidikan islam

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) adalah unit pendidikan non-formal jenis keagamaan berbasis komunitas muslim yang menjadikan al-Qur’an sebagai materi utamanya, dan diselenggarakan dalam suasana yang indah, bersih, rapi, nyaman dan menyenangkan sebagai cerminan nilai simbolis dan filosofis dari kata TAMAN yang dipergunakan. TPA/TPQ bertujuan menyiapkan terbentuknya generasi Qur’ani, yaitu yang memiliki komitmen terhadap al-Qur’an sebagai sumber perilaku, pijakan hidup dan rujukan segala rujukan segala urusan. Hal ini ditandai dengan kecintaan yang mendalam terhadap al-Qur’an, mampu dan rajin membacanya, terus menerus mempelajari isi kandunganya, dan memiliki kemauan yang kuat untuk mengamalkan secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari.
Tentunya dalam pelaksanaan belajar-mengajar dalam TPA/TPQ banyak kekurangan-kekurangan, dan kendala-kendala yang dihadapi. Sehingga tujuan di adakanya TPA/TPQ belum berjalan sesuai rencana. Berangkat dari sinilah saya sangat tertarik untuk melakukan penelitian di TPA di Desa. Pakuncen Kec. Patianrowo. Kab. Nganjuk JAWA TIMUR. Dan akan menulis makalah yang berjudul “PARTISIPASI ORANG TUA DALAM PENYELENGGARAAN TPA DI DESA PAKUNCEN KABUPATEN NGANJUK”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan TPA di Desa Pakuncen, Kab. Nganjuk?
2. Bagaimana faktor penghambat partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan TPA di Desa Pakuncen, Kab. Nganjuk?


BAB II
PEMBAHASAN
1. Partisipasi Orang Tua Terhadap Penyelenggaraan TPA
a. Pengertian partisipasi
Partisipasi merupakan keterlibatan mental dan emosi dari seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk menyokong kepada pencapaian tujuan pada tujuan kelompok tersebut dan ikut bertanggung jawab terhadap kelompoknya.
Cohen dan Uphoff (1997), partisipasi sebagai keterlibatan dalam proses pembuatan keputusan, pelaksanaan program, memperoleh kemanfaatan dan mengevaluasi program .
b. Bentuk partisipasi
Menurut Basrowi, partisipasi masyarakat dilihat dari bentuknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu “partisipasi non fisik dan partisipasi fisik”. Partisipasi fisik adalah partisipasi masyarakat (orang tua) dalam bentuk menyelenggarakan usaha-usaha pendidikan. Sedangkan partisipasi non fisik adalah adalah partisipasi keikutsertaan masyarakat dalam menentukan arah dan pendidikan nasional dan meratanya animo masyarakat untuk menuntut ilmu pengetahuan melalui pendidikan sehingga pemerintah tidak ada kesulitan mengarahkan rakyat untuk bersekolah.
c. Partisipasi orang tua terhadap TPA
Pendidikan merupakan proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini tentunya peran orang tua sangatlah penting, dalam mewujudkan tujuan pendidikan, yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat kreatif,mandiri.
d. Letak geografis TPA baiturrahman
TPA Baiturrahman terletak di desa Pakuncen kecamatan Patianrowo kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur. TPA ini berlangsung di masjid Baiturrahman. Di belakang masjid ini terdapat pemakaman umum. Masjid ini letaknya sangat strategis, yakni terletak di tengah desa. Masjid ini berwarna hijau, ukirannya indah. Kubahnya juga besar. Masjid ini sangatlah cocok untuk diadakanya kegiatan belajar mengajar, karna selain letak yang strategis juga kebersihanya terjaga, dan keadaan sekitarnya tidak berbahaya bagi anak-anak. Disekitar masjid ditumbuhi pepohonan, dan terdapat kolam ikan. Masjid ini sangat lah luas. Dan digunakan sebagai pusat jama.ah sholat idul fitri dan idul adha. Disekitar masjid juga terdapat orang yang berjualan, agar para murid bisa membeli makanan kapanpun.
e. Ustadz dan uztadzah
Ustadz dan ustazah di TPA ini tentunya berasal dari desa ini sendiri. Jumlahnya memaang tidak terlalu banyak, hanya 4 uztadzah dan 2 ustadz. Karna melihat jumlah murid yang juga tidak terlalu banyak. Uztadzah dan ustadz menimba ilmu dipondok pesantren yang berada di desa sini. Mereka bukan berniat mencari uang dalam mengajar TPA ini, tapi pada niatan memanfaatkan ilmu yang telah di dapatnya kepada masyarakat yang membutuhkan.
f. Siswa
Murid di TPA ini bisa dibilang sangatlah sedikit, jumlahnya yakni 20 orang. Mulai dari umur 2tahun hingga yang 11 tahun. Tentunya dengan melihat fisik siswa, 13 siswa yang mampu menerima pembelajaran alquran. Dan yang 5 masih terlalu kecil untuk di ajarkan qiroati. Siswa disini walaupun sedikit tetaplah semangat. Karna di TPA ini sering di adakan jalan bersama, walaupun rute jalanya hanya di sekitar desa.
g. Pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar
Pelaksanaan kegiatan belajar disinin menguunakan metode iqro, guru membaca kemudian murid menirukan. Walaupun TPA ini sangat sederhana, tentunya dalam kegiatan belajar mengajar adanya suatu tarjet yang harus dilakukan oleh para siswa. Tarjet tersebut yakni mampu menghafal dan membaca huruf hijaiyah, serta mampu menghafal doa-doa seperti : doa kebaikan dunia ahirat, doa untuk kedua orang tua, doa sebelum makan, doa sesudah makan, doa akan tidur, doa bangun tidur. Dan menghafal surat al-Fatihah, Surat an-Naas, Surat al-Ikhlas, Surat al-Falaq, Surat al-Lahab, Surat An-Nash. Kegiatan pembelajaran ini berlangsung dari pukul 15.00-17.00.
2. Bagaimana faktor penghambat partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan TPA di Desa Pakuncen, Kab. Nganjuk
a. Orang tua lebih mementingkan anaknya les privat
Di desa pakuncen ini, selain ada TPA juga terdapat les privat, seperti matematika, IPA, B.inggris, IPS. Pada kenyataannya orang tua siswa lebih menekannkan anaknya kepada les privat ini, karna di anggap lebih menguntungkan dibanding mengikuti TPA. Karna yang dibutuhkan anak dan di ujikan oleh negara, hanya pendidikan formal.
b. Kurangnya rasa kepercayaan orang tua pada lembaga tersebut
Orang tua hendaknya memberikan informasi yang baik terhadap TPA pada anak-anak, jika dari pihak orang tua sudah tidak memberikan rangsangan yang positif pada TPA, bagaimana bisa seorang anak kecil juga akan berminat untuk mengikuti TPA.
c. Penggelolaan TPA kurang bagus
TPA bukanlah pendidikan formal, agaknya secara administrasi TPA ini dibilang sangatlah kurang, cara mempromosikanya juga kurang sehingga masyarakat agaknya kurang merespon adanya TPA ini. Secara kurikulum , memang belum ada urutanj kurikulum yang runtun secara baik yang dibuat oleh pengelola TPA ini.
d. Strategi pembelajaran yang monoton
Strategin pembelajaran di TPA ini, memang mengunakan strategi lama, dan belum menggunakan strategi yang modern. Jadi siswa belum dilibatkan untuk menjadi subjek, dan hanya dijadikan sebagai objek.
e. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA
Dalam kegiatan pembelajaran siswa, belum adanya penyaluran bakat siswa, seperti di adakanya lomba sepak bola, lomba qiro’ah, lomba kelereng, dan lomba-lomba lainya yang mampu membuat anak kecil senang untuk melakukanya. Hendaknya selain kegiatan belajar mengajar di dalam ruang, hendaknya di adakan kegiatan belajar mengajar diluar ruangan agar siswa mampu mencari kegiatan lain yang menyenangkan.
f. Sedikitnya dana penunjang ustadz dan ustadzah
Kurangnya partisipasi orang tua, menyebabkan pemasukan dan donatur untuk TPA ini pun menjadi berkurang. TPA tentunya tidak akan mampu memberikan dana tunjangan yang lebih untuk para staf pengajarnya, dan untuk membeli keperluan sarana dan prasarana lainya.
3. Saran
dari problematika di atas maka saya akan memberikan saran sebagai berikut
a. Orang tua lebih mementingkan anaknya les privat
Hendak dari pihak pengelola TPA melakukan pemberian informasi kepada masyarakat bahwasanya kegiatan belajar mengajar di TPA tidak kalah bagusnya dengan kegiatan les privat, tentunya pihak pengelola TPA juga harus meningkatkan kualitas pembelajaran.

b. Kurangnya rasa kepercayaan orang tua pada lembaga tersebut
Tujuan anak menitipkan anaknya ke suatu lembaga, adalah keinginan orang tua agar anaknya bisa berunbah dari yang kurang bagus menjadi lebih bagus, dari yang belum tahu, menjadi tahu, dari yang belum bisa menjadi bisa. Agar orang tua siswa mempercayakan anaknya ke lembaga ini, maka pihak pengelola TPA harus memperbaiki kinerjanya, dan harus bisa menggandeng masyarakat untuk ikut serta mendukung kegiatan TPA.
c. Penggelolaan TPA kurang bagus
Hendaknya peng administrasian TPA haruslah dikelola dengan baik. Walaupun ini forum yang belum besar, tapi hendaknya berusaha agar bisa melakukan hal yang terbaik untuk TPA. Agar tujuan TPA tersebut berjalan dengan baik.
d. Strategi pembelajaran yang monoton
Pihak pengelola haruslah mempersiapkan strategi pembelajaran yang modern, misalnya dengan mengunakan audio elektronik, dan pegenalan terhadap alam. Misalnya adnya kegiatan alam, seperti outbon yang mampu menarik perhatian siswa untuk mengikuti kegiatan TPA.
e. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA
Pengelola hendaknya mampu mengetahui apa saja bakat siswa, sehingga dalam kegiatan pembelajaran TPA, diselingi dengan kegiatan yang menyenangkan pula bagi siswa didik. Karna dirasa jika kegiatan TPA hanyalah dikelas saja , hal itu sangatlah membosankan.menurut pengalaman saya dahulu.
f. Sedikitnya dana penunjang ustadz dan ustadzah
Masyarakat hendaknya mampu membantu berlangsungnya kegiatan TPA, dengan memberikan bantuan berupa materi dan sarana-prasarana untuk TPA, agar TPA tidak berdiri sendiri dalam menghadapi masalah-masalah yang ada di TPA ini.
BAB III
KESIMPULAN
Dari permasalahan yang ada di atas dapat saya simpulkan, bahwasanya faktor penghambat partisipasi orang tua terhadap TPA sangatlah banyak. Yaitu :
a. Orang tua lebih mementingkan anaknya les privat
b. Kurangnya rasa kepercayaan orang tua pada lembaga tersebut
c. Penggelolaan TPA kurang bagus
d. Strategi pembelajaran yang monoton
e. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA
f. Sedikitnya dana penunjang ustadz dan ustadzah
Dan solusi nya adalah dengan cara memperbaiki kinerja administrasi dan pengelolaan TPA tersebut. Dan adanya dorongan untuk peserta didik dari orang tua. Serta meningkatkan partisipasi orang tua terhadap kegiatan pembelajaran TPA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar