KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP PELAKSANAAN PENDIDIKAN DI DUNIA ISLAM
Judul : Kehancuran Dinasti Abbasiyah dan Pengaruhnya Terhadap Pelaksanaan Pendidikan di Dunia Islam
Pengarang : Roli Yandri
Penerbit : Kencana Prenada Media Groub
Tebal Halaman : 11 halaman (183-194)
A. KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH
Dalam sejarah islam, jatuhnya Daulah Abbasiyah pada tahun 1258 M dianggap berahirnya zaman keemasan islam. Pada fase kehancuran Daulah Abbasiyah terdapat beberapa faktor yang menjadi akar kemunduran dinasti ini. Dan di antara faktor tersebut adalah.
1. FAKTOR INTERNAL
Yang dimaksud faktor internal kemunduran dinasti abasiyah adalah faktor yang berasal dalam pemerintahan itu sendiri. Faktor internal tersebut adalah.
a. Konflik internal keluarga istana
Perebutan kekuasaan din kalangan anak-anak kholifah sering mem-bawa kemunduran dan kehancuran pemerintah mereka sendiri.
b. Tampilnya dominasi wilayah
Pada masa khalifah Al Mu’tasim banyak direkrut jajaran militer dari budak-budak Turki. Dan terkadang golongan elit dari mereka diangkat menjadi gubernur di beberapa wilayah Dinasti Abbasiyah. Dalam perkembangan kemudian, militer ini secara berlahan membangun kekuatan dalam daulah. Mereka secara berlahan mengendalikan jalanya administrasi pemerintah daulah Abbasiyah. Sehingga menimbulkan kelemahan pada Abbasiyah.
c. Permasalahan keuangan
Perkembangan peradaban dan kebudayaan dari periode pertama yang menjadikan penguasa untuk bermewah-mewahan dan banyaknya korupsi.
d. Berdirinya dinasti-dinasti kecil
Di berbagai daerah yang ingin membentuk dinasti-dinasti kecil yang melepaskan diri dari bani Abbasiyah. Dari sinilah mulai muncul dinasti Tahiriyah, dinasti Safariyah, Dinasti Idrisiyah sampai kepada dinasti Tulun, Ikhsid dan Hamdaniyah.
e. Luasnya wilayah
Luasnya wilayah yang harus dikendalikan, merupakan penyebab lambatnya penyampaian informasi dan komunikasi.
f. Fanatisme keagamaan
Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas antarmuslim dan Zindig atau Ahlusunnah dengan syi’ah tetapi juga aliran-aliran dalam Islam, sehingga mu’tazilah yang rasional dituduh sebagai pembuat bid’ah oleh golongan salaf.
2. FAKTOR EKSTERNAL
Selain banyaknya faktor dari dalam umat islam, juga terdapat ancaman dari luar yang menyebabkan kehancuran Dinasti Abbasiyah. Di antara faktor itu adalah.
a. Perang salib
Perang salib merupakan simbol perang agama yang timbul atas ketidaksenangan komunitas kristen terhadap perkembangan Islam di Eropa. Orang-orang eropa terpanggil untuk berperang setelah Paus Urbanus II mengeluarkan fatwanya.
b. Serangan tentara mongol
Setelah perang salib, tentara Mongol juga melakukan penyerangan ke wilayah kekuasaan islam. Serangan ini berlangsung selama 40 hari. Kholifah Al Mu’tasim Billah bersama putra-puranya dibunuh oleh tentara Mongol. Turut terbunuh pula guru istana khalifah; Syekh Mukhyidin Yusuf bin Syaik Abil Faraj Ibnul Jauzi.
Dari berbagai masalah internal dan serangan dari luar, mengakibatkan kehancuran-kehancuran yang berdampak terhentinya kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan di dunia islam. Sementara karya-karya pemikir islam berpindah tangan ke kaum masehi.
B. KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENDIDIKAN DUNIA ISLAM
Dengan kehancuran Dinasti Abbasiyah yang disebabkan oleh beberapa faktor, telah menunjukan dalam dunia islam telah terjadi zaman kemunduran. Masa kemunduran di sini dengan konotasi kemunduran pendidikan yang ditandai dengan kemunduran intelektual. Dalam sejarah kehancuran total yang dihadapi kota-kota pendidikan dan kebudayaan islam mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi pendidikan islam dan melemahnya pemikiran islam yang disebabkan antara lain.
1. Telah Berlebihanya Filasafat Islam (yang bersifat sufistik)
Kehidupan sufi berkembang dengan cepat. Keadaan frustasi yang merata di kalangan umat Islam yang menyebabkan manusia kembali kepada Tuhan.ajaran ini dikenal dengan istilah tarekat. Di madrasah-madrasah hanya ilmu agama yang diajarkan, sedangkan ilmu lain tidak masuk dalam pengajaranya.
2. Sedikitnya Kurikulum Islam
Sedikitnya materi kurikulum islam, dengan tidak adanya perhatian kepada ilmu-ilmu kealaman, kurikulum madrasah hanya terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan, dengan sedikit gramatika dan bahasa sebagai alat yang diperlukan. Ilmu-ilmu keagamaan murni (tafsir, hadis, fikih dan usul fikih, ilmu kalam dan teologi islam) sudah mulai tertinggal karna penyempitan kurikulum. Madrasah yang di urus kaum sufi adalah ilmu keagamaan yang tujuanya untuk mendekatkan diri pada Allah untuk menyucikan diri dan ilmu sufi lainya.
3. Tertutupnya Pintu Ijtuhad
Pada masa kemunduran ini, pintu ijtihad sudah mulai dianggap tertutup yang disebabkan keruntuhan kota-kota pendidikan islam, sehingga pelaksanaan pendidikan islam sudah banyak dilaksanakan dirumah-rumah para ulama,yang mengakibatkan madrasah kurang berfungsi
makalah-makalah qiu
Kamis, 23 Februari 2012
Kamis, 16 Februari 2012
esai b.indonesia
UPIN-IPIN SEBAGAI PENUNJANG PENDIDIKAN KARAKTER
Bangsa indonesia masih dihadapkan pada kondosi yang kritis, karakter dan kebribadian bangsa semakin mengalami kamunduran. Terbukti dengan masih banyak permasalahan seperti korupsi kolusi dan nepotisme. Generasi muda dan pejabat negara semakin tidak mengenal bangsanya sendiri. Nilai kepedulian dan rasa cinta tanah air telah memudar dari hati nurani masyarakat. Semakin tidak adanya tokoh negara yang dapat dijadikan suri tauladan untuk anak bangsa. Bagaimana penerus bangsa akan lebih baik, jika para peninggi bangsa tak mengajarkan tentang kebaikan bagi penerus bangsa.
Pendidikan hendaknya mampu menjadikan karakter dan kebribadian anak bangsa menjadi baik, dini ini banyak para siswa yang masih dalam masa pertumbuhan emosionalnya, yang masih terbilang polos, telah dikenalkan kepada orang-orang disekitar mereka suatu kebejatan dan kelicikan yang akan berdampak sangat buruk. Misalkan saat ujian UAN, anak-anak selama 3 tahun telah di ajarkan suatu kebaikan, dilarang menyontek, tetapi di saat UAN, para guru telah memberikan pelajaran yang sangat buruk, menyuruh muridnya untuk saling menyontek, dan yang lebih miris lagi para pihak sekolah telah menghalalkan segala cara, yakni dengan membeli jawaban UAN pada pihak atasan???sungguh sangatlah miris jika melihat jalanya pendidikan di Indonesia.
Dengan adanya suatu kemunduran karakter bangsa ini, dirasa perlunya untuk memberikan tokoh yang baik dalam lingkungan anak bangsa, agar anak bangsa mampu menjadi pribadi yang baik, seperti yang telah ia lihat diwaktu dini. Dengan permasalahan ini maka pihak pertelevisian telah menayangkan kartun UPIN-IPIN. Film ini sangatlah bagus untuk pendidikan karakter anak sejak dini, hadirnya film ini pun disambut baik oleh bangsa indonesi.
Film UPIN-IPIN mengajarkan tentang bagaimana kebersamaan itu dijalin, terbukti disalah satu film ketika paman upin-ipin panen rambutan, upin-ipin beserta teman-temanya mambantu sang paman untuk menjualkan, tanpa meminta upah.sungguh indah jika bangsa indonesia menerapkan hal semacam ini. Pada saat bulan ramadhan, upin-ipin walaupun hanyalah sebatas kartun, juga telah mengajarkan bagaimana tata cara berpuasa, mana ada kartun untuk anak-anak yang mampu menyajikan hal religius. Selain film upin-ipin ini? Saya kira tidak ada, seperti shincan, dora, doraemon, chibi maruko chan, naruto, conan, dll. Tak pernah sekalipun lihat mereka menyajikan hal religius.
Dalam film upin-ipin ini terkandung banyak pelajaran yang mampu anak bangsa contoh, seperti kejujuran upin-ipin, kebersamaan yang di bangun bersama teman-temanya, suka membantu satu dengan yang lain, toleransi, tanpa meninggalkan kewajibanya sebagai umat islam. Dalam tayangan film telah ada bagaimana tata cara berdoa sebelum makan dan sesudah makan. Jika dalam hal sepele semacam ini dilakukan anak bangsa , kelak bangsa kita akan jauh lebih baik dari sekarang.
Tontonan upin-ipin adalah satu-satunya tayangan yang menyajikan banyak hal tentang kebaikan, yang mampu memberi pendidikan karakter bangsa sejak usia dini. Upin-ipin dirasa mampu mengubah karakter bangsa yang telah pudar, perlunya bimbingan orang tua untuk menyimpulkan apa saja pelajaran yang terdapat dalam upin-ipin pada anak-anaknya saat melihat film ini. Agar dengan begitu, anak akan semakin memahami bahwasanya karakter seperti itulah yang baik, yang harus dilakukan oleh anak-anak.
Nama : Yunita Fatma Pertiwi
NIM : 10470060
KI-C
Bangsa indonesia masih dihadapkan pada kondosi yang kritis, karakter dan kebribadian bangsa semakin mengalami kamunduran. Terbukti dengan masih banyak permasalahan seperti korupsi kolusi dan nepotisme. Generasi muda dan pejabat negara semakin tidak mengenal bangsanya sendiri. Nilai kepedulian dan rasa cinta tanah air telah memudar dari hati nurani masyarakat. Semakin tidak adanya tokoh negara yang dapat dijadikan suri tauladan untuk anak bangsa. Bagaimana penerus bangsa akan lebih baik, jika para peninggi bangsa tak mengajarkan tentang kebaikan bagi penerus bangsa.
Pendidikan hendaknya mampu menjadikan karakter dan kebribadian anak bangsa menjadi baik, dini ini banyak para siswa yang masih dalam masa pertumbuhan emosionalnya, yang masih terbilang polos, telah dikenalkan kepada orang-orang disekitar mereka suatu kebejatan dan kelicikan yang akan berdampak sangat buruk. Misalkan saat ujian UAN, anak-anak selama 3 tahun telah di ajarkan suatu kebaikan, dilarang menyontek, tetapi di saat UAN, para guru telah memberikan pelajaran yang sangat buruk, menyuruh muridnya untuk saling menyontek, dan yang lebih miris lagi para pihak sekolah telah menghalalkan segala cara, yakni dengan membeli jawaban UAN pada pihak atasan???sungguh sangatlah miris jika melihat jalanya pendidikan di Indonesia.
Dengan adanya suatu kemunduran karakter bangsa ini, dirasa perlunya untuk memberikan tokoh yang baik dalam lingkungan anak bangsa, agar anak bangsa mampu menjadi pribadi yang baik, seperti yang telah ia lihat diwaktu dini. Dengan permasalahan ini maka pihak pertelevisian telah menayangkan kartun UPIN-IPIN. Film ini sangatlah bagus untuk pendidikan karakter anak sejak dini, hadirnya film ini pun disambut baik oleh bangsa indonesi.
Film UPIN-IPIN mengajarkan tentang bagaimana kebersamaan itu dijalin, terbukti disalah satu film ketika paman upin-ipin panen rambutan, upin-ipin beserta teman-temanya mambantu sang paman untuk menjualkan, tanpa meminta upah.sungguh indah jika bangsa indonesia menerapkan hal semacam ini. Pada saat bulan ramadhan, upin-ipin walaupun hanyalah sebatas kartun, juga telah mengajarkan bagaimana tata cara berpuasa, mana ada kartun untuk anak-anak yang mampu menyajikan hal religius. Selain film upin-ipin ini? Saya kira tidak ada, seperti shincan, dora, doraemon, chibi maruko chan, naruto, conan, dll. Tak pernah sekalipun lihat mereka menyajikan hal religius.
Dalam film upin-ipin ini terkandung banyak pelajaran yang mampu anak bangsa contoh, seperti kejujuran upin-ipin, kebersamaan yang di bangun bersama teman-temanya, suka membantu satu dengan yang lain, toleransi, tanpa meninggalkan kewajibanya sebagai umat islam. Dalam tayangan film telah ada bagaimana tata cara berdoa sebelum makan dan sesudah makan. Jika dalam hal sepele semacam ini dilakukan anak bangsa , kelak bangsa kita akan jauh lebih baik dari sekarang.
Tontonan upin-ipin adalah satu-satunya tayangan yang menyajikan banyak hal tentang kebaikan, yang mampu memberi pendidikan karakter bangsa sejak usia dini. Upin-ipin dirasa mampu mengubah karakter bangsa yang telah pudar, perlunya bimbingan orang tua untuk menyimpulkan apa saja pelajaran yang terdapat dalam upin-ipin pada anak-anaknya saat melihat film ini. Agar dengan begitu, anak akan semakin memahami bahwasanya karakter seperti itulah yang baik, yang harus dilakukan oleh anak-anak.
Nama : Yunita Fatma Pertiwi
NIM : 10470060
KI-C
ilmu pendidikan islam
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) adalah unit pendidikan non-formal jenis keagamaan berbasis komunitas muslim yang menjadikan al-Qur’an sebagai materi utamanya, dan diselenggarakan dalam suasana yang indah, bersih, rapi, nyaman dan menyenangkan sebagai cerminan nilai simbolis dan filosofis dari kata TAMAN yang dipergunakan. TPA/TPQ bertujuan menyiapkan terbentuknya generasi Qur’ani, yaitu yang memiliki komitmen terhadap al-Qur’an sebagai sumber perilaku, pijakan hidup dan rujukan segala rujukan segala urusan. Hal ini ditandai dengan kecintaan yang mendalam terhadap al-Qur’an, mampu dan rajin membacanya, terus menerus mempelajari isi kandunganya, dan memiliki kemauan yang kuat untuk mengamalkan secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari.
Tentunya dalam pelaksanaan belajar-mengajar dalam TPA/TPQ banyak kekurangan-kekurangan, dan kendala-kendala yang dihadapi. Sehingga tujuan di adakanya TPA/TPQ belum berjalan sesuai rencana. Berangkat dari sinilah saya sangat tertarik untuk melakukan penelitian di TPA di Desa. Pakuncen Kec. Patianrowo. Kab. Nganjuk JAWA TIMUR. Dan akan menulis makalah yang berjudul “PARTISIPASI ORANG TUA DALAM PENYELENGGARAAN TPA DI DESA PAKUNCEN KABUPATEN NGANJUK”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan TPA di Desa Pakuncen, Kab. Nganjuk?
2. Bagaimana faktor penghambat partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan TPA di Desa Pakuncen, Kab. Nganjuk?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Partisipasi Orang Tua Terhadap Penyelenggaraan TPA
a. Pengertian partisipasi
Partisipasi merupakan keterlibatan mental dan emosi dari seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk menyokong kepada pencapaian tujuan pada tujuan kelompok tersebut dan ikut bertanggung jawab terhadap kelompoknya.
Cohen dan Uphoff (1997), partisipasi sebagai keterlibatan dalam proses pembuatan keputusan, pelaksanaan program, memperoleh kemanfaatan dan mengevaluasi program .
b. Bentuk partisipasi
Menurut Basrowi, partisipasi masyarakat dilihat dari bentuknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu “partisipasi non fisik dan partisipasi fisik”. Partisipasi fisik adalah partisipasi masyarakat (orang tua) dalam bentuk menyelenggarakan usaha-usaha pendidikan. Sedangkan partisipasi non fisik adalah adalah partisipasi keikutsertaan masyarakat dalam menentukan arah dan pendidikan nasional dan meratanya animo masyarakat untuk menuntut ilmu pengetahuan melalui pendidikan sehingga pemerintah tidak ada kesulitan mengarahkan rakyat untuk bersekolah.
c. Partisipasi orang tua terhadap TPA
Pendidikan merupakan proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini tentunya peran orang tua sangatlah penting, dalam mewujudkan tujuan pendidikan, yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat kreatif,mandiri.
d. Letak geografis TPA baiturrahman
TPA Baiturrahman terletak di desa Pakuncen kecamatan Patianrowo kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur. TPA ini berlangsung di masjid Baiturrahman. Di belakang masjid ini terdapat pemakaman umum. Masjid ini letaknya sangat strategis, yakni terletak di tengah desa. Masjid ini berwarna hijau, ukirannya indah. Kubahnya juga besar. Masjid ini sangatlah cocok untuk diadakanya kegiatan belajar mengajar, karna selain letak yang strategis juga kebersihanya terjaga, dan keadaan sekitarnya tidak berbahaya bagi anak-anak. Disekitar masjid ditumbuhi pepohonan, dan terdapat kolam ikan. Masjid ini sangat lah luas. Dan digunakan sebagai pusat jama.ah sholat idul fitri dan idul adha. Disekitar masjid juga terdapat orang yang berjualan, agar para murid bisa membeli makanan kapanpun.
e. Ustadz dan uztadzah
Ustadz dan ustazah di TPA ini tentunya berasal dari desa ini sendiri. Jumlahnya memaang tidak terlalu banyak, hanya 4 uztadzah dan 2 ustadz. Karna melihat jumlah murid yang juga tidak terlalu banyak. Uztadzah dan ustadz menimba ilmu dipondok pesantren yang berada di desa sini. Mereka bukan berniat mencari uang dalam mengajar TPA ini, tapi pada niatan memanfaatkan ilmu yang telah di dapatnya kepada masyarakat yang membutuhkan.
f. Siswa
Murid di TPA ini bisa dibilang sangatlah sedikit, jumlahnya yakni 20 orang. Mulai dari umur 2tahun hingga yang 11 tahun. Tentunya dengan melihat fisik siswa, 13 siswa yang mampu menerima pembelajaran alquran. Dan yang 5 masih terlalu kecil untuk di ajarkan qiroati. Siswa disini walaupun sedikit tetaplah semangat. Karna di TPA ini sering di adakan jalan bersama, walaupun rute jalanya hanya di sekitar desa.
g. Pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar
Pelaksanaan kegiatan belajar disinin menguunakan metode iqro, guru membaca kemudian murid menirukan. Walaupun TPA ini sangat sederhana, tentunya dalam kegiatan belajar mengajar adanya suatu tarjet yang harus dilakukan oleh para siswa. Tarjet tersebut yakni mampu menghafal dan membaca huruf hijaiyah, serta mampu menghafal doa-doa seperti : doa kebaikan dunia ahirat, doa untuk kedua orang tua, doa sebelum makan, doa sesudah makan, doa akan tidur, doa bangun tidur. Dan menghafal surat al-Fatihah, Surat an-Naas, Surat al-Ikhlas, Surat al-Falaq, Surat al-Lahab, Surat An-Nash. Kegiatan pembelajaran ini berlangsung dari pukul 15.00-17.00.
2. Bagaimana faktor penghambat partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan TPA di Desa Pakuncen, Kab. Nganjuk
a. Orang tua lebih mementingkan anaknya les privat
Di desa pakuncen ini, selain ada TPA juga terdapat les privat, seperti matematika, IPA, B.inggris, IPS. Pada kenyataannya orang tua siswa lebih menekannkan anaknya kepada les privat ini, karna di anggap lebih menguntungkan dibanding mengikuti TPA. Karna yang dibutuhkan anak dan di ujikan oleh negara, hanya pendidikan formal.
b. Kurangnya rasa kepercayaan orang tua pada lembaga tersebut
Orang tua hendaknya memberikan informasi yang baik terhadap TPA pada anak-anak, jika dari pihak orang tua sudah tidak memberikan rangsangan yang positif pada TPA, bagaimana bisa seorang anak kecil juga akan berminat untuk mengikuti TPA.
c. Penggelolaan TPA kurang bagus
TPA bukanlah pendidikan formal, agaknya secara administrasi TPA ini dibilang sangatlah kurang, cara mempromosikanya juga kurang sehingga masyarakat agaknya kurang merespon adanya TPA ini. Secara kurikulum , memang belum ada urutanj kurikulum yang runtun secara baik yang dibuat oleh pengelola TPA ini.
d. Strategi pembelajaran yang monoton
Strategin pembelajaran di TPA ini, memang mengunakan strategi lama, dan belum menggunakan strategi yang modern. Jadi siswa belum dilibatkan untuk menjadi subjek, dan hanya dijadikan sebagai objek.
e. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA
Dalam kegiatan pembelajaran siswa, belum adanya penyaluran bakat siswa, seperti di adakanya lomba sepak bola, lomba qiro’ah, lomba kelereng, dan lomba-lomba lainya yang mampu membuat anak kecil senang untuk melakukanya. Hendaknya selain kegiatan belajar mengajar di dalam ruang, hendaknya di adakan kegiatan belajar mengajar diluar ruangan agar siswa mampu mencari kegiatan lain yang menyenangkan.
f. Sedikitnya dana penunjang ustadz dan ustadzah
Kurangnya partisipasi orang tua, menyebabkan pemasukan dan donatur untuk TPA ini pun menjadi berkurang. TPA tentunya tidak akan mampu memberikan dana tunjangan yang lebih untuk para staf pengajarnya, dan untuk membeli keperluan sarana dan prasarana lainya.
3. Saran
dari problematika di atas maka saya akan memberikan saran sebagai berikut
a. Orang tua lebih mementingkan anaknya les privat
Hendak dari pihak pengelola TPA melakukan pemberian informasi kepada masyarakat bahwasanya kegiatan belajar mengajar di TPA tidak kalah bagusnya dengan kegiatan les privat, tentunya pihak pengelola TPA juga harus meningkatkan kualitas pembelajaran.
b. Kurangnya rasa kepercayaan orang tua pada lembaga tersebut
Tujuan anak menitipkan anaknya ke suatu lembaga, adalah keinginan orang tua agar anaknya bisa berunbah dari yang kurang bagus menjadi lebih bagus, dari yang belum tahu, menjadi tahu, dari yang belum bisa menjadi bisa. Agar orang tua siswa mempercayakan anaknya ke lembaga ini, maka pihak pengelola TPA harus memperbaiki kinerjanya, dan harus bisa menggandeng masyarakat untuk ikut serta mendukung kegiatan TPA.
c. Penggelolaan TPA kurang bagus
Hendaknya peng administrasian TPA haruslah dikelola dengan baik. Walaupun ini forum yang belum besar, tapi hendaknya berusaha agar bisa melakukan hal yang terbaik untuk TPA. Agar tujuan TPA tersebut berjalan dengan baik.
d. Strategi pembelajaran yang monoton
Pihak pengelola haruslah mempersiapkan strategi pembelajaran yang modern, misalnya dengan mengunakan audio elektronik, dan pegenalan terhadap alam. Misalnya adnya kegiatan alam, seperti outbon yang mampu menarik perhatian siswa untuk mengikuti kegiatan TPA.
e. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA
Pengelola hendaknya mampu mengetahui apa saja bakat siswa, sehingga dalam kegiatan pembelajaran TPA, diselingi dengan kegiatan yang menyenangkan pula bagi siswa didik. Karna dirasa jika kegiatan TPA hanyalah dikelas saja , hal itu sangatlah membosankan.menurut pengalaman saya dahulu.
f. Sedikitnya dana penunjang ustadz dan ustadzah
Masyarakat hendaknya mampu membantu berlangsungnya kegiatan TPA, dengan memberikan bantuan berupa materi dan sarana-prasarana untuk TPA, agar TPA tidak berdiri sendiri dalam menghadapi masalah-masalah yang ada di TPA ini.
BAB III
KESIMPULAN
Dari permasalahan yang ada di atas dapat saya simpulkan, bahwasanya faktor penghambat partisipasi orang tua terhadap TPA sangatlah banyak. Yaitu :
a. Orang tua lebih mementingkan anaknya les privat
b. Kurangnya rasa kepercayaan orang tua pada lembaga tersebut
c. Penggelolaan TPA kurang bagus
d. Strategi pembelajaran yang monoton
e. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA
f. Sedikitnya dana penunjang ustadz dan ustadzah
Dan solusi nya adalah dengan cara memperbaiki kinerja administrasi dan pengelolaan TPA tersebut. Dan adanya dorongan untuk peserta didik dari orang tua. Serta meningkatkan partisipasi orang tua terhadap kegiatan pembelajaran TPA.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) adalah unit pendidikan non-formal jenis keagamaan berbasis komunitas muslim yang menjadikan al-Qur’an sebagai materi utamanya, dan diselenggarakan dalam suasana yang indah, bersih, rapi, nyaman dan menyenangkan sebagai cerminan nilai simbolis dan filosofis dari kata TAMAN yang dipergunakan. TPA/TPQ bertujuan menyiapkan terbentuknya generasi Qur’ani, yaitu yang memiliki komitmen terhadap al-Qur’an sebagai sumber perilaku, pijakan hidup dan rujukan segala rujukan segala urusan. Hal ini ditandai dengan kecintaan yang mendalam terhadap al-Qur’an, mampu dan rajin membacanya, terus menerus mempelajari isi kandunganya, dan memiliki kemauan yang kuat untuk mengamalkan secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari.
Tentunya dalam pelaksanaan belajar-mengajar dalam TPA/TPQ banyak kekurangan-kekurangan, dan kendala-kendala yang dihadapi. Sehingga tujuan di adakanya TPA/TPQ belum berjalan sesuai rencana. Berangkat dari sinilah saya sangat tertarik untuk melakukan penelitian di TPA di Desa. Pakuncen Kec. Patianrowo. Kab. Nganjuk JAWA TIMUR. Dan akan menulis makalah yang berjudul “PARTISIPASI ORANG TUA DALAM PENYELENGGARAAN TPA DI DESA PAKUNCEN KABUPATEN NGANJUK”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan TPA di Desa Pakuncen, Kab. Nganjuk?
2. Bagaimana faktor penghambat partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan TPA di Desa Pakuncen, Kab. Nganjuk?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Partisipasi Orang Tua Terhadap Penyelenggaraan TPA
a. Pengertian partisipasi
Partisipasi merupakan keterlibatan mental dan emosi dari seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk menyokong kepada pencapaian tujuan pada tujuan kelompok tersebut dan ikut bertanggung jawab terhadap kelompoknya.
Cohen dan Uphoff (1997), partisipasi sebagai keterlibatan dalam proses pembuatan keputusan, pelaksanaan program, memperoleh kemanfaatan dan mengevaluasi program .
b. Bentuk partisipasi
Menurut Basrowi, partisipasi masyarakat dilihat dari bentuknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu “partisipasi non fisik dan partisipasi fisik”. Partisipasi fisik adalah partisipasi masyarakat (orang tua) dalam bentuk menyelenggarakan usaha-usaha pendidikan. Sedangkan partisipasi non fisik adalah adalah partisipasi keikutsertaan masyarakat dalam menentukan arah dan pendidikan nasional dan meratanya animo masyarakat untuk menuntut ilmu pengetahuan melalui pendidikan sehingga pemerintah tidak ada kesulitan mengarahkan rakyat untuk bersekolah.
c. Partisipasi orang tua terhadap TPA
Pendidikan merupakan proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini tentunya peran orang tua sangatlah penting, dalam mewujudkan tujuan pendidikan, yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat kreatif,mandiri.
d. Letak geografis TPA baiturrahman
TPA Baiturrahman terletak di desa Pakuncen kecamatan Patianrowo kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur. TPA ini berlangsung di masjid Baiturrahman. Di belakang masjid ini terdapat pemakaman umum. Masjid ini letaknya sangat strategis, yakni terletak di tengah desa. Masjid ini berwarna hijau, ukirannya indah. Kubahnya juga besar. Masjid ini sangatlah cocok untuk diadakanya kegiatan belajar mengajar, karna selain letak yang strategis juga kebersihanya terjaga, dan keadaan sekitarnya tidak berbahaya bagi anak-anak. Disekitar masjid ditumbuhi pepohonan, dan terdapat kolam ikan. Masjid ini sangat lah luas. Dan digunakan sebagai pusat jama.ah sholat idul fitri dan idul adha. Disekitar masjid juga terdapat orang yang berjualan, agar para murid bisa membeli makanan kapanpun.
e. Ustadz dan uztadzah
Ustadz dan ustazah di TPA ini tentunya berasal dari desa ini sendiri. Jumlahnya memaang tidak terlalu banyak, hanya 4 uztadzah dan 2 ustadz. Karna melihat jumlah murid yang juga tidak terlalu banyak. Uztadzah dan ustadz menimba ilmu dipondok pesantren yang berada di desa sini. Mereka bukan berniat mencari uang dalam mengajar TPA ini, tapi pada niatan memanfaatkan ilmu yang telah di dapatnya kepada masyarakat yang membutuhkan.
f. Siswa
Murid di TPA ini bisa dibilang sangatlah sedikit, jumlahnya yakni 20 orang. Mulai dari umur 2tahun hingga yang 11 tahun. Tentunya dengan melihat fisik siswa, 13 siswa yang mampu menerima pembelajaran alquran. Dan yang 5 masih terlalu kecil untuk di ajarkan qiroati. Siswa disini walaupun sedikit tetaplah semangat. Karna di TPA ini sering di adakan jalan bersama, walaupun rute jalanya hanya di sekitar desa.
g. Pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar
Pelaksanaan kegiatan belajar disinin menguunakan metode iqro, guru membaca kemudian murid menirukan. Walaupun TPA ini sangat sederhana, tentunya dalam kegiatan belajar mengajar adanya suatu tarjet yang harus dilakukan oleh para siswa. Tarjet tersebut yakni mampu menghafal dan membaca huruf hijaiyah, serta mampu menghafal doa-doa seperti : doa kebaikan dunia ahirat, doa untuk kedua orang tua, doa sebelum makan, doa sesudah makan, doa akan tidur, doa bangun tidur. Dan menghafal surat al-Fatihah, Surat an-Naas, Surat al-Ikhlas, Surat al-Falaq, Surat al-Lahab, Surat An-Nash. Kegiatan pembelajaran ini berlangsung dari pukul 15.00-17.00.
2. Bagaimana faktor penghambat partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan TPA di Desa Pakuncen, Kab. Nganjuk
a. Orang tua lebih mementingkan anaknya les privat
Di desa pakuncen ini, selain ada TPA juga terdapat les privat, seperti matematika, IPA, B.inggris, IPS. Pada kenyataannya orang tua siswa lebih menekannkan anaknya kepada les privat ini, karna di anggap lebih menguntungkan dibanding mengikuti TPA. Karna yang dibutuhkan anak dan di ujikan oleh negara, hanya pendidikan formal.
b. Kurangnya rasa kepercayaan orang tua pada lembaga tersebut
Orang tua hendaknya memberikan informasi yang baik terhadap TPA pada anak-anak, jika dari pihak orang tua sudah tidak memberikan rangsangan yang positif pada TPA, bagaimana bisa seorang anak kecil juga akan berminat untuk mengikuti TPA.
c. Penggelolaan TPA kurang bagus
TPA bukanlah pendidikan formal, agaknya secara administrasi TPA ini dibilang sangatlah kurang, cara mempromosikanya juga kurang sehingga masyarakat agaknya kurang merespon adanya TPA ini. Secara kurikulum , memang belum ada urutanj kurikulum yang runtun secara baik yang dibuat oleh pengelola TPA ini.
d. Strategi pembelajaran yang monoton
Strategin pembelajaran di TPA ini, memang mengunakan strategi lama, dan belum menggunakan strategi yang modern. Jadi siswa belum dilibatkan untuk menjadi subjek, dan hanya dijadikan sebagai objek.
e. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA
Dalam kegiatan pembelajaran siswa, belum adanya penyaluran bakat siswa, seperti di adakanya lomba sepak bola, lomba qiro’ah, lomba kelereng, dan lomba-lomba lainya yang mampu membuat anak kecil senang untuk melakukanya. Hendaknya selain kegiatan belajar mengajar di dalam ruang, hendaknya di adakan kegiatan belajar mengajar diluar ruangan agar siswa mampu mencari kegiatan lain yang menyenangkan.
f. Sedikitnya dana penunjang ustadz dan ustadzah
Kurangnya partisipasi orang tua, menyebabkan pemasukan dan donatur untuk TPA ini pun menjadi berkurang. TPA tentunya tidak akan mampu memberikan dana tunjangan yang lebih untuk para staf pengajarnya, dan untuk membeli keperluan sarana dan prasarana lainya.
3. Saran
dari problematika di atas maka saya akan memberikan saran sebagai berikut
a. Orang tua lebih mementingkan anaknya les privat
Hendak dari pihak pengelola TPA melakukan pemberian informasi kepada masyarakat bahwasanya kegiatan belajar mengajar di TPA tidak kalah bagusnya dengan kegiatan les privat, tentunya pihak pengelola TPA juga harus meningkatkan kualitas pembelajaran.
b. Kurangnya rasa kepercayaan orang tua pada lembaga tersebut
Tujuan anak menitipkan anaknya ke suatu lembaga, adalah keinginan orang tua agar anaknya bisa berunbah dari yang kurang bagus menjadi lebih bagus, dari yang belum tahu, menjadi tahu, dari yang belum bisa menjadi bisa. Agar orang tua siswa mempercayakan anaknya ke lembaga ini, maka pihak pengelola TPA harus memperbaiki kinerjanya, dan harus bisa menggandeng masyarakat untuk ikut serta mendukung kegiatan TPA.
c. Penggelolaan TPA kurang bagus
Hendaknya peng administrasian TPA haruslah dikelola dengan baik. Walaupun ini forum yang belum besar, tapi hendaknya berusaha agar bisa melakukan hal yang terbaik untuk TPA. Agar tujuan TPA tersebut berjalan dengan baik.
d. Strategi pembelajaran yang monoton
Pihak pengelola haruslah mempersiapkan strategi pembelajaran yang modern, misalnya dengan mengunakan audio elektronik, dan pegenalan terhadap alam. Misalnya adnya kegiatan alam, seperti outbon yang mampu menarik perhatian siswa untuk mengikuti kegiatan TPA.
e. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA
Pengelola hendaknya mampu mengetahui apa saja bakat siswa, sehingga dalam kegiatan pembelajaran TPA, diselingi dengan kegiatan yang menyenangkan pula bagi siswa didik. Karna dirasa jika kegiatan TPA hanyalah dikelas saja , hal itu sangatlah membosankan.menurut pengalaman saya dahulu.
f. Sedikitnya dana penunjang ustadz dan ustadzah
Masyarakat hendaknya mampu membantu berlangsungnya kegiatan TPA, dengan memberikan bantuan berupa materi dan sarana-prasarana untuk TPA, agar TPA tidak berdiri sendiri dalam menghadapi masalah-masalah yang ada di TPA ini.
BAB III
KESIMPULAN
Dari permasalahan yang ada di atas dapat saya simpulkan, bahwasanya faktor penghambat partisipasi orang tua terhadap TPA sangatlah banyak. Yaitu :
a. Orang tua lebih mementingkan anaknya les privat
b. Kurangnya rasa kepercayaan orang tua pada lembaga tersebut
c. Penggelolaan TPA kurang bagus
d. Strategi pembelajaran yang monoton
e. Belum adanya penyaluran bakat siswa dalam TPA
f. Sedikitnya dana penunjang ustadz dan ustadzah
Dan solusi nya adalah dengan cara memperbaiki kinerja administrasi dan pengelolaan TPA tersebut. Dan adanya dorongan untuk peserta didik dari orang tua. Serta meningkatkan partisipasi orang tua terhadap kegiatan pembelajaran TPA.
psikologi perkembangan semester 3 uin-suka
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN (BAB IV)
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi perkembangan, dengan dosen pengampu : Dra. Nadlifah, M. Pd.
Nama :
1. Yunita Fatma pertiwi 10470060
KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
SEMESTER GASAL TAHUN 2011/2012
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sangatlah penting untuk dipelajari sebagai acuan menjadi seorang pendidik maupun acuan sebagai mahasiswa. Agar kita semua mampu mengetahui faktor keturunan, lingkungan dan pengaruh ketentuan Allah dalam perkembangan.
Pembahasan ini sangatlah penting agar kita semua dapat menyimpulkan faktor-faktor yang menjadi perkembangan individu menjadi berbeda.
Kesalahn yang terjadi sering kali orang hanya memandang dari satu faktor saja, tanpa memperdulikan faktor lainya. Padahal pada dasarnya ketiga faktor tersebut sangat ber eratan. Maka dari itu tujuan pembuatan makalah ini diharapkan agar kita bisa lebih jeli dalam meneliti perkembangan individu .
B. Rumusan Masalah
1. Apa arti perkembangan?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan?
3. Dalam perspektif islam faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan?
BAB II
PEMBAHASAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
A. Pengertian Perkembangan
Bahwasanya bertumbuh itu tidak sama dengan bertumbuh berkembang. Bagian pribadi yang materiil serta kuantitatif mengalami pertumbuhan, sedangkan pribadi fungsional yang kualitatif mengalami perkembangan. Penggunaan istilah pertumbuhan bila titik beratnya perubahan fisi, sedangkan istilah perkembangan dipakai lebih menekankan perubahan psikis.
Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekan pada segi materiil, melainkan pada segi fungsional. Dari uraian ini, perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif daripada fungsi-fungsi.
Perubahan sesuatu fungsi adalah disebabkan oleh adanya proses pertumbuhan materiil yang memungkinkan adanya fungsi itu, dan disamping itu, disababkan oleh karna perubahan tingkah laku hasil belajar. Dengan demikian, kita boleh merumuskan pengertian perkembangan pribadi sebagai perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian akibat dari pertumbuhan dan belajar.
Fungsi-fungsi kepribadian manusia berhubungan dengan aspek jasmaniah dan aspek kejiwaan. Fungsi-fungsi kepribadian yang jasmaniah misalnya :
1. Fungsi motorik pada bagian-bagian tubuh.
2. Fungsi sensoris pada alat-alat indra.
3. Fungsi neurotik pada sistem saraf.
4. Fungsi seksual pada bagian-bagian tubuh yang erotis.
5. Fungsi pernapasan pada alat pernapasan.
6. Fungsi peredaran darah pada jantung dan urat-urat nadi.
7. Fungsi pencernaan makanan pada alat pencernaan.
Sedangkan fungsi kepribadian yang bersifat kejiwaan misalnya :
1. Fungsi perhatian
2. Fungsi pengamatan
3. 3.fungsi tanggapan
4. Fungsi ingatan
5. Fungsi fantasi
6. Fungsi pikiran
7. Fungsi perasaan
8. Fungsi kemauan
Setiap fungsi yang disebutkan diatas, baik yang jasmaniyah maupun yang kejiawaan, dapat mengalami perubahan. Perubahan pada fungsi-fungsi tersebut tidak secara kuantitatif, melainkan lebih bersifat kualitatif. Perubahan yang kealitatif tidak dapat dikayakan sebagai pertumbuhan., melainkan sebagai perkembangan.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Perkembangan adalah perihal berkembang mekar, terbuka membentang, menjadi besar, luas, banyak, dan sebagainya. Kata berkembang tidak saja meliputi aspek yang bersifat abstrak dalam hal kualitas, seperti pikiran dan pengetahuan, namun jiga bersifat konkret yang menunjukan perkembangan positif.
Perkembangan (development) adalah suatu proses tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Perkembangan melibatkan proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu-mutu fungsi organ jasmaniyah.
Menurut Werner (1957), perkembangan sesuai dengan prinsip orthogenetis, yaitu perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdeferensiasi sampai pada keadaan diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap.
Perkembangan juga diartikan sebagai “ perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Pengertian lain dari perkembangan adalah “ perubahan-perubahan yang di alami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaanya atau kematanganya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah)”.
Yang dimaksud dengan sistematis, progresif, dan berkesinambungan itu adalah sebagai berikut :
1. Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme (fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis.
2. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis).
3. Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan dan berurutan, tidak terjadi kebetulan atau loncat-loncat.
Istilah perkembangan dimaksudkan untuk menunjukan perubahan-perubahan dalam bentuk atau bagian tubuh dan integrasi berbagai bagianya ke dalam suatu kesatuan fungsional, bila pertumbuhan itu berlangsung. Perkembangan hanya dapat diamati dengan memperhatikan perubahan-perubahan dalam bentuk-bentuk tingkah laku pada saat telah tercapai kematangan.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
Perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis-otomatis, sebab perkembangan terjadi sangant bergantung pada beberapa faktor. Faktor tersebut antara lain :
1. Nativisme
Para ahli yang mengikuti aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Natus berarti ‘lahir’, perkembangan individu semata-mata tergantung dari pembawaannya. Menurut teori ini, pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Pandangan seperti ini disebut dengan “pesimisme paedagogis”.
a. Faktor herediter (warisan sejak lahir/bawaan).
Heredis merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai “ totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi ( [pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen”.
2. Empirisme
Aliran ini bertentangan dengan aliran narivisme. Pengikut aliran empiris berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata berasal dari faktor lingkungan. Tokoh utama aliran ini adalah John Locke (1632-1704). Doktrin aliran ini terkenal dengan teori “tabula rasa”. Doktrin tabula rasa ini menekankan pentingnya arti pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata tergantung dari lingkungan dan pengalaman pendidikanya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya.
3. Konvergensi
Aliran ini merupakan gabungan antara aliran empirisme dan aliran nativisme yang mengabungkan arti nereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan. Tokoh utama konvergensi Louis William Stem (1871-1938) menganggap bakat sebagai kemungkinan yang telah ada pada masing-masing individu dapat dikembangkan apabila di tunjang dengan pengaruh lingkunganya.
Sedangkan menurut Elfi Yuliani Rocmah perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis-otomatis, sebab perkembangan terjadi sangat bergantung pada beberapa faktor secara simultan. Faktor tersebut antara lain :
a. Faktor herediter (warisan sejak lahir/bawaan)
b. Faktor lingkungan yang menguntungkan atau merugikan
c. Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis
d. Aktifitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui, punya emosi, serta usaha membangun diri sendiri (Kartini Kartono, 1995:21)
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dalam perspektif islam
Salisu Shebu (1999) menyatakan bahwa bukan hanya faktor hereditas dan lingkungan yang penting dalam mempengaruhi perkembangan manusia. Dalam perspektif islam penting untuk di ingat, bahwa faktor ketentuan Allah merupakan hal juga mempengaruhi proses perkembangan.
Untuk memberikan kejelasan, beberapa bukti tertulis dari Al-Quran dan Sunah yang membenarkan pengaruh hereditas dan lingkungan pada perkembangan manusia, maka akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengaruh Hereditas dalam Perkembangan
Muslim meriwayatkan dari Thauban, bahwa seorang Yahudi datang dan bertanya kepada Nabi berbagai pertanyaan (sebagai usaha untuk menentang kebenaran kenabianya). Pertanyaanya adalah tentang penentuan jenis kelamin, bagaimana terjadinya? Nabi menjawab sebagai berikut : “ sperma pria adalah putih dan sel telur perempuan kekuning-kuningan. Jika mereka bertemu (terjadi pembuahan) dan sperma pria mengungguli seltelur perempuan, hasilnya akan menjadi jenis kelamin laki-laki dengan seizin Allah, dan jika sel telur perempuan mengguguli sel aperma pria hasilnya akan menjadi perempuan dengan seizin Allah”
Setelah nabi menjawab demikian, orangyahudi itu mengatakan, dan dia adalah benar seorang Nabi.
Walaupun demikian Ibn al-Qayyim, memperingati bahwa penentuan jenis kelamin ini tidak dapat dipahami sebagai hal yang semata-mata di tentukan oleh alam. Karena hal tersebut merupakan urusan yang sepenuhnya tergantung pada kehendak Allah. Itu sebabnya mengapa Rasullullah mengatakan dalam hadis bukti lain bahwa malaikat meniup roh kedalam fetus dan bertanya kepada Allah : wahai Tuhanku! Apakah jenis kelaminya laki-laki atau perempuan? Kemudian Allah menentukanya sesuai kehendak dan malaikat mencatatnya.
2. Pengaruh Lingkungan dalam Perkembangan
Bukti yang terkenal berkenaan dengan hal ini dalah hadis dimana Rasullah saw. Mengatakan bagaimana orang tuan mempengaruhi agama, moral, dan psikologi umum dari sosialisasi dan perkembangan anak-anak mereka. Hadis ini merypakan bukti tekstual yang paling terkenal dari pengaruh lingkungan terhadap seseorang.
“tiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tualah yang membuat ia yahudi, nasrani, atau majusi. Seperti binatang yang lahir sempurna adakah engkau melihat mereka terluka padasaat lahir?”
3. Pengaruh Ketentuan Allah dalam Perkembangan
Meskipun hereditas dan lingkungan merupakan faktor yang tak dapat diragukan sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, ada faktor ketiga yang bersifat signifikan dan dominan. Faktor ini adalah kehendak dan kekuatan Allah yang tidak terbatas. Faktor inilah yang memantau dan menjaga besarnya kekuatan alam. Contohnya, perkembangan kognitif bukan semata-mata produk warisan genetik, ataupun semata-mata produk lingkungan. Sebab pada prinsipnya, ia merupakan produk dan kehendak kekuatan Allah. Sehubungan dengan hal ini, hereditas dan kekuatan lingkungan merupakan media dimana Allah menunjukan kecenderungan pola dari perkembangan individu.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Perkembangan adalah Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekan pada segi materiil, melainkan pada segi fungsional. Dari uraian ini, perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif daripada fungsi-fungsi. Perkembangan hanya dapat diamati dengan memperhatikan perubahan-perubahan dalam bentuk-bentuk tingkah laku pada saat telah tercapai kematangan.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan yaitu Faktor herediter (warisan sejak lahir/bawaan).Faktor lingkungan yang menguntungkan atau merugikan.Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis Aktifitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui, punya emosi, serta usaha membangun diri sendiri (Kartini Kartono, 1995:21)
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dalam perspektif islam yaitu Pengaruh Hereditas dalam Perkembangan, Pengaruh Lingkungan dalam Perkembangan, Pengaruh Ketentuan Allah dalam perkembangan.
DAFTAR PUSTAKA
Purwakania, Aliah. Psikologi perkembangan islam, 2006,PT RajaGrafindo Persada, jakarta.
Baharuddin. Pendidikan & Psikologi Perkembangan, 2009, Ar-ruzz Media, Yogyakarta,
Yuliani, Elfi . Psikologi Perkembangan , 2005, Teras, Yogyakarta.
Fatimah, Enung. Psikologi Perkembangan, 2006, CV Pustaka Setia, Bandung.
Yusuf, Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja,2005, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Tim Penulis Buku Psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan . 1995, universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
soemanto,Wasty. Psikologi Pendidikan, 2006, Rineka Cipta, Jakarta.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi perkembangan, dengan dosen pengampu : Dra. Nadlifah, M. Pd.
Nama :
1. Yunita Fatma pertiwi 10470060
KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
SEMESTER GASAL TAHUN 2011/2012
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sangatlah penting untuk dipelajari sebagai acuan menjadi seorang pendidik maupun acuan sebagai mahasiswa. Agar kita semua mampu mengetahui faktor keturunan, lingkungan dan pengaruh ketentuan Allah dalam perkembangan.
Pembahasan ini sangatlah penting agar kita semua dapat menyimpulkan faktor-faktor yang menjadi perkembangan individu menjadi berbeda.
Kesalahn yang terjadi sering kali orang hanya memandang dari satu faktor saja, tanpa memperdulikan faktor lainya. Padahal pada dasarnya ketiga faktor tersebut sangat ber eratan. Maka dari itu tujuan pembuatan makalah ini diharapkan agar kita bisa lebih jeli dalam meneliti perkembangan individu .
B. Rumusan Masalah
1. Apa arti perkembangan?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan?
3. Dalam perspektif islam faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan?
BAB II
PEMBAHASAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
A. Pengertian Perkembangan
Bahwasanya bertumbuh itu tidak sama dengan bertumbuh berkembang. Bagian pribadi yang materiil serta kuantitatif mengalami pertumbuhan, sedangkan pribadi fungsional yang kualitatif mengalami perkembangan. Penggunaan istilah pertumbuhan bila titik beratnya perubahan fisi, sedangkan istilah perkembangan dipakai lebih menekankan perubahan psikis.
Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekan pada segi materiil, melainkan pada segi fungsional. Dari uraian ini, perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif daripada fungsi-fungsi.
Perubahan sesuatu fungsi adalah disebabkan oleh adanya proses pertumbuhan materiil yang memungkinkan adanya fungsi itu, dan disamping itu, disababkan oleh karna perubahan tingkah laku hasil belajar. Dengan demikian, kita boleh merumuskan pengertian perkembangan pribadi sebagai perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian akibat dari pertumbuhan dan belajar.
Fungsi-fungsi kepribadian manusia berhubungan dengan aspek jasmaniah dan aspek kejiwaan. Fungsi-fungsi kepribadian yang jasmaniah misalnya :
1. Fungsi motorik pada bagian-bagian tubuh.
2. Fungsi sensoris pada alat-alat indra.
3. Fungsi neurotik pada sistem saraf.
4. Fungsi seksual pada bagian-bagian tubuh yang erotis.
5. Fungsi pernapasan pada alat pernapasan.
6. Fungsi peredaran darah pada jantung dan urat-urat nadi.
7. Fungsi pencernaan makanan pada alat pencernaan.
Sedangkan fungsi kepribadian yang bersifat kejiwaan misalnya :
1. Fungsi perhatian
2. Fungsi pengamatan
3. 3.fungsi tanggapan
4. Fungsi ingatan
5. Fungsi fantasi
6. Fungsi pikiran
7. Fungsi perasaan
8. Fungsi kemauan
Setiap fungsi yang disebutkan diatas, baik yang jasmaniyah maupun yang kejiawaan, dapat mengalami perubahan. Perubahan pada fungsi-fungsi tersebut tidak secara kuantitatif, melainkan lebih bersifat kualitatif. Perubahan yang kealitatif tidak dapat dikayakan sebagai pertumbuhan., melainkan sebagai perkembangan.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Perkembangan adalah perihal berkembang mekar, terbuka membentang, menjadi besar, luas, banyak, dan sebagainya. Kata berkembang tidak saja meliputi aspek yang bersifat abstrak dalam hal kualitas, seperti pikiran dan pengetahuan, namun jiga bersifat konkret yang menunjukan perkembangan positif.
Perkembangan (development) adalah suatu proses tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Perkembangan melibatkan proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu-mutu fungsi organ jasmaniyah.
Menurut Werner (1957), perkembangan sesuai dengan prinsip orthogenetis, yaitu perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdeferensiasi sampai pada keadaan diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap.
Perkembangan juga diartikan sebagai “ perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Pengertian lain dari perkembangan adalah “ perubahan-perubahan yang di alami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaanya atau kematanganya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah)”.
Yang dimaksud dengan sistematis, progresif, dan berkesinambungan itu adalah sebagai berikut :
1. Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme (fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis.
2. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis).
3. Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan dan berurutan, tidak terjadi kebetulan atau loncat-loncat.
Istilah perkembangan dimaksudkan untuk menunjukan perubahan-perubahan dalam bentuk atau bagian tubuh dan integrasi berbagai bagianya ke dalam suatu kesatuan fungsional, bila pertumbuhan itu berlangsung. Perkembangan hanya dapat diamati dengan memperhatikan perubahan-perubahan dalam bentuk-bentuk tingkah laku pada saat telah tercapai kematangan.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
Perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis-otomatis, sebab perkembangan terjadi sangant bergantung pada beberapa faktor. Faktor tersebut antara lain :
1. Nativisme
Para ahli yang mengikuti aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Natus berarti ‘lahir’, perkembangan individu semata-mata tergantung dari pembawaannya. Menurut teori ini, pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Pandangan seperti ini disebut dengan “pesimisme paedagogis”.
a. Faktor herediter (warisan sejak lahir/bawaan).
Heredis merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai “ totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi ( [pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen”.
2. Empirisme
Aliran ini bertentangan dengan aliran narivisme. Pengikut aliran empiris berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata berasal dari faktor lingkungan. Tokoh utama aliran ini adalah John Locke (1632-1704). Doktrin aliran ini terkenal dengan teori “tabula rasa”. Doktrin tabula rasa ini menekankan pentingnya arti pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata tergantung dari lingkungan dan pengalaman pendidikanya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya.
3. Konvergensi
Aliran ini merupakan gabungan antara aliran empirisme dan aliran nativisme yang mengabungkan arti nereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan. Tokoh utama konvergensi Louis William Stem (1871-1938) menganggap bakat sebagai kemungkinan yang telah ada pada masing-masing individu dapat dikembangkan apabila di tunjang dengan pengaruh lingkunganya.
Sedangkan menurut Elfi Yuliani Rocmah perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis-otomatis, sebab perkembangan terjadi sangat bergantung pada beberapa faktor secara simultan. Faktor tersebut antara lain :
a. Faktor herediter (warisan sejak lahir/bawaan)
b. Faktor lingkungan yang menguntungkan atau merugikan
c. Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis
d. Aktifitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui, punya emosi, serta usaha membangun diri sendiri (Kartini Kartono, 1995:21)
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dalam perspektif islam
Salisu Shebu (1999) menyatakan bahwa bukan hanya faktor hereditas dan lingkungan yang penting dalam mempengaruhi perkembangan manusia. Dalam perspektif islam penting untuk di ingat, bahwa faktor ketentuan Allah merupakan hal juga mempengaruhi proses perkembangan.
Untuk memberikan kejelasan, beberapa bukti tertulis dari Al-Quran dan Sunah yang membenarkan pengaruh hereditas dan lingkungan pada perkembangan manusia, maka akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengaruh Hereditas dalam Perkembangan
Muslim meriwayatkan dari Thauban, bahwa seorang Yahudi datang dan bertanya kepada Nabi berbagai pertanyaan (sebagai usaha untuk menentang kebenaran kenabianya). Pertanyaanya adalah tentang penentuan jenis kelamin, bagaimana terjadinya? Nabi menjawab sebagai berikut : “ sperma pria adalah putih dan sel telur perempuan kekuning-kuningan. Jika mereka bertemu (terjadi pembuahan) dan sperma pria mengungguli seltelur perempuan, hasilnya akan menjadi jenis kelamin laki-laki dengan seizin Allah, dan jika sel telur perempuan mengguguli sel aperma pria hasilnya akan menjadi perempuan dengan seizin Allah”
Setelah nabi menjawab demikian, orangyahudi itu mengatakan, dan dia adalah benar seorang Nabi.
Walaupun demikian Ibn al-Qayyim, memperingati bahwa penentuan jenis kelamin ini tidak dapat dipahami sebagai hal yang semata-mata di tentukan oleh alam. Karena hal tersebut merupakan urusan yang sepenuhnya tergantung pada kehendak Allah. Itu sebabnya mengapa Rasullullah mengatakan dalam hadis bukti lain bahwa malaikat meniup roh kedalam fetus dan bertanya kepada Allah : wahai Tuhanku! Apakah jenis kelaminya laki-laki atau perempuan? Kemudian Allah menentukanya sesuai kehendak dan malaikat mencatatnya.
2. Pengaruh Lingkungan dalam Perkembangan
Bukti yang terkenal berkenaan dengan hal ini dalah hadis dimana Rasullah saw. Mengatakan bagaimana orang tuan mempengaruhi agama, moral, dan psikologi umum dari sosialisasi dan perkembangan anak-anak mereka. Hadis ini merypakan bukti tekstual yang paling terkenal dari pengaruh lingkungan terhadap seseorang.
“tiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tualah yang membuat ia yahudi, nasrani, atau majusi. Seperti binatang yang lahir sempurna adakah engkau melihat mereka terluka padasaat lahir?”
3. Pengaruh Ketentuan Allah dalam Perkembangan
Meskipun hereditas dan lingkungan merupakan faktor yang tak dapat diragukan sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, ada faktor ketiga yang bersifat signifikan dan dominan. Faktor ini adalah kehendak dan kekuatan Allah yang tidak terbatas. Faktor inilah yang memantau dan menjaga besarnya kekuatan alam. Contohnya, perkembangan kognitif bukan semata-mata produk warisan genetik, ataupun semata-mata produk lingkungan. Sebab pada prinsipnya, ia merupakan produk dan kehendak kekuatan Allah. Sehubungan dengan hal ini, hereditas dan kekuatan lingkungan merupakan media dimana Allah menunjukan kecenderungan pola dari perkembangan individu.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Perkembangan adalah Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekan pada segi materiil, melainkan pada segi fungsional. Dari uraian ini, perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif daripada fungsi-fungsi. Perkembangan hanya dapat diamati dengan memperhatikan perubahan-perubahan dalam bentuk-bentuk tingkah laku pada saat telah tercapai kematangan.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan yaitu Faktor herediter (warisan sejak lahir/bawaan).Faktor lingkungan yang menguntungkan atau merugikan.Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis Aktifitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui, punya emosi, serta usaha membangun diri sendiri (Kartini Kartono, 1995:21)
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dalam perspektif islam yaitu Pengaruh Hereditas dalam Perkembangan, Pengaruh Lingkungan dalam Perkembangan, Pengaruh Ketentuan Allah dalam perkembangan.
DAFTAR PUSTAKA
Purwakania, Aliah. Psikologi perkembangan islam, 2006,PT RajaGrafindo Persada, jakarta.
Baharuddin. Pendidikan & Psikologi Perkembangan, 2009, Ar-ruzz Media, Yogyakarta,
Yuliani, Elfi . Psikologi Perkembangan , 2005, Teras, Yogyakarta.
Fatimah, Enung. Psikologi Perkembangan, 2006, CV Pustaka Setia, Bandung.
Yusuf, Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja,2005, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Tim Penulis Buku Psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan . 1995, universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
soemanto,Wasty. Psikologi Pendidikan, 2006, Rineka Cipta, Jakarta.
filsafat pendidikan semester 3
STRATEGI PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN MUTU SDM
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Filsafat Pendidikan
dengan dosen pengampu :
Prof. Dr. Abdul Rachman Assegaf
Oleh :
Yunita Fatma pertiwi 10470060
KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
TAHUN 2011/2012
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan islam mengemban tugas penting, yakni bagaimana mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar umat islam dapat berperan aktif di era globalisasi. Pengembangan SDM bukan persoalan yang gampang dan sederhana. Dala pendidikan, manusia adalah perencana, pelaku, pengendali serta tujuan dari pendidikan. Oleh karena itu pengembangan kualitas SDM merupakan prioritas utama yang harus ditingkatkan, sehingga dengan demikian ia dapat memiliki segala kemampuan yang dibutuhkan dalam pendidikan.
Upaya pengembangan dan peningkatan kualitas SDM dapat dilakukan melalui berbagai jalur, diantaranya melalui pendidikan. Pendidikan ini merupakan jalur peningkatan kualitas SDM yang lebih menekan pada pembentukan kualitas dasar, misalnya keimanan dan ketaqwaan, kepribadian, kecerdasan, kedisiplinan, kreativitas dsb . dalam hal pengembangan SDM, pendidikan memiliki strategis dan mempunyai peran penting sebagai suatu investasi dimasa depan. Karenan secara teoritis, pendidikan adalah dasar dari pertumbuhan ekonomi, dasar dari perkembangan sains dan tegnologi, mengurangi kemiskinan.
BAB II
PEMBAHASAN
HAKIKAT METODE PENDIDIKAN
A. Metode dalam proses pendidikan islam
Dalam proses pendidikan islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.
Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar-mengajar menuju tujuan pendidikan.
Dalam proses pendidikan islam, metode dapat dikatakan tepat-guna bila mengandung nilai-nilai intristik dan ekstrinstik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan islam.
Ada tiga aspek nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan islam yang hendak di realisasikan melalui metode yang mengandung watak dan relevansi, yaitu ; pertama, membentuk anak didik menjadi hamba Allah yang mengabdi kepada-Nya semata, dan kedua, bernilai edukatif yang mengacu pada petunjuk Al-Quran dan yang ketiga, ialagh berkaitan dengan motivasi dan kedisiplinan sesuai ajaran Al-quran yang disebut pahala dan siksaan.
Adapun prisnip-prinsip metodelogis yang dijadikan landasan psikologis untuk memperlancar proses kependidikan islam yang sejalan dengan ajaran islam adalah ;
1. Prinsip Memberiksn Suasana kegembiraan
Prinsip ini dapat dijabarkan dari sabda Nabi SAW. Kepada sahabat beliau untuk diutus untuk melakukan dakwah kepada Gubernur Romawi di Damaskus, yaitu Mu’azd Ibn Jabal dan Abu Musa Al=Asy’ari sebagai berikut :
Artinya : “ permudahlah mereka dan jangan mempersulit, gembirakanlah mereka dan jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan mereka menjauhi kamu”
Dari berbagai firman Allah yang menyuruh pada pendidik untul memberikan kegembiraan kepada orang-orang yang beriman., orang yang bersabar, orang yang berbuat kebaikan dan sebagainya.seperti firmanya :
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya : “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik bahwa mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya...” (QS. Al-Baqaraha ; 25)
2. Prinsip memberikan layanan dan santunan dengan lemah lembut
Firman Allah :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya : “Maka disebabkan rahmad dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka memohonlah ampun bagi mereka” (QS. Ali Imran : 159)
3. Prinsip kebermaknaan bagi anak didik
Artinya : “Berbicaralah kamu kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal pikiran mereka”
4. Psinsip Prasyarat
Untuk menarik minat anak didik diperlukan mukadimah dalam langkah-langkah mengajar bahan pengajaran baru yang dapat memadukan perhatian dan minat mereka ke arah bahan tersebut. Dimulai dan diberi contoh dari apa yang berada disekitar lingkungan.
5. Prinsip Komunikasi Terbuka
Guru mendorong anak didik untuk membuka diri terhadap segala hal atau bahan-pelajaran yang disajikan kepada mereka. Sehingga mereka dapat menyerapnya menjadi bahan apersepsi dalam pikiranya.
6. Prinsip Pemberian Pengetahuan yang Baru
Anak didik ditarik minat dan perhatianya pada bahan-bahan pengetahuan yang baru bagi mereka. Agar peserta didik selalu mendapat informasi yang baru, dan semakin bisa untuk beradaptasi dengan lingkunganya.
7. Prinsip Memberikan model Perilaku yang Baik
Anak didik dapat memperoleh contoh perilaku melalui pengamatan dan peniruan yang tepat-guna dalam proses belajar mengajar, misalnya seperti firman Allah :
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasullullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut (nama) Allah”
8. Prinsip Praktek (pengamalan) secara aktif
Mendorong anak didik untuk mengamalkan semua pengetahuan yang telah diperoleh dalam proses belajar mengajar, atau pengalaman dari keyakinan dan sikap yang mereka hayati dan pahami sehingga nilai-nilai yang telah ditransformasikan atau diinternalisasikan ke dalam diri manusia didik menghasilkan buah ynag bermanfaat bagi diri dan masyarakat sekitar
Firman Allah yang menunjukan pentingnya. Mengamalkan pelajaran yang telah mereka pahami dan hayati ialah seperti ayat-ayat Al-Quran sebagai berikut :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, menga[a kamu mengatakan apa yang tidak kamu berbuat. Amar besar kebencian di sisi allah bahwa kamu mengatakan apa-apa tetapi tidak kamu kerjakan” (QS. As-Saf:2-3)
9. Prinsip-prinsip lainya
Prinsip-prinsip lainya, yaitu prinsip kasih sayang dan prinsip bimbingan dan penyuluhan terhadap anak didik.
Sabda Nabi :
Artinya : “Tidaklah termasuk suatu golonganku orang yang tidak menyayangi kepada yang lebih muda (lebih kecil) dan tidak mengetahui kewajibanya terhadap yang tua (lebih besar)”
B. MODEL PENGEMBANGAN POTENSI DIRI DALAM MENINGKATKAN SDM
Berikut 17 model pengembangan potensi diri melalui berbagai model pembelajaran efektif yang ditawarkan oleh John P. Miller,
1. Model pengembangan ego (ego development)
Model yang dikenal sebagai pengembangan ego, tujuan pokoknya adalah bagaimana setiap krisis perkembangan peserta didik dapat dipecahkan secara efektif. Unruk dikembangkan suatu proses pembelajaran dengan cara mengenali tahapan perkembangan ego peserta didik, dan pembelajaran menyesuaikan dengan tahapan tesebut.
2. Model pengembangan jiwa (psychological education)
Model pengembangan kejiwaan bertujuan untuk merealisasikan kebebaan belajar. Proses pembelajaran dimulai dengan mengenali tahap perkembangan peserta didik, dan pembelajaran menyesuaikan dengan perkembangan tersebut. Semua itu dilakukan berdasarkan taksiran akibat yang akan terjadi dari setiap perkembangan jiwa, khususnya pada usia remaja. Dalam hal ini pendidik penting memahami akan kebutuhan peserta didik dan mengkaitkan kegiatan pembelajaran dengan kebutuhan mereka.
3. Model pengembangan jiwa sosial (psychosocial model)
Perkembangan ini bertujuan merealisasikan identitas pribadi dan kemandirian pesertaa didik guna mendorong kemampuanya berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain.
4. Model pengembangan moral (moral development)
Perkembangan ini bertujuan untuk menghindari tahap kemunduran dan mencapai kebebasan dari penalaran konvesional. Pendidik berperan menumbuhkan suasana diskusi yang terbuka dengan mendorong peserta didik melakukan penalaran yang kokoh.
5. Model pengembangan penjernihan nilai (values clarification)
Perkembangan ini bertujuan untuk menjelaskan nilai pribadi dalam memahami orang lain. Tugas pendidik adalah menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menggembirakan. Dengan demikian diharapkan peserta didik dapat saling bertukar nilai.
6. Model pengembangan identitas diri (edentity education)
Model pengenalan identitas diri bertujuan untuk menciptakan kesan diri peserta didik itu baik dan mampu mengendalikan diri dalam hubunganya dengan orang lain. Peran pendidik adalah memelihara perhatian peserta didik dalam keterkaitanya dengan materi kegiatan atau kurikulum.
7. Model perkembangan pertemuan kelas (classrom meeting)
Model pengembangan pertemuan kelas sesungguhnya adalah pengalaman pengambilan keputusan. Tujuan mengembangkan pengenalan diri melalui diskusi terhadap suatu problem
8. Model pengembangan bermain peran (role playing development)
Model ini bertujuan mengembangkan konsep diri yang positif, ketrampilan menyelesaikan masalah dan kekompakan kelompok. Peran pendidik adalah menciptakan suasana keterbukaan untuk uji coba peran dan mengikuti permainan peran.
9. Model pengembangan pengarahan diri (self-directed development)
Bertujuan mendorong peserta didik berfungsi secara penuh. Proses pembelajaran meliputi kegiatan menciptakan suasana terbuka dan setiap peserta didik menetukan sendiri pola belajarnya.
10. Model pengembangan pengarahan diri (communication development)
Yaitu suatu model latihan kepekaan berkomunikasi yang bertujuan untuk menumbuhkan kecakapan berempati, respek yang jujur, konfronsi dan penyikapan diri.
11. Model kepekaan pertimbangan (sensitivty consideration)
Yaitu model kepekaan memahami orang lain yang bertujuan menumbuhkan kepekaan, kebutuhan, dan perasaan orang lain.
12. Model pengembangan transaksi sosial (transactional analysis)
Yaitu suatu model yang bertujuan agar peserta didik cakap berkomunikasi secara terbuka bagi pertumbuhan diri pribadi setiap peserta didik.
13. Model pengembangan relasi kemanusiaan (human relation)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk meningkatkan kecakapan mendiagnosa dan berperan dalam kelompok dari setiap pesrta didik. Tujuanya adalah meningkatkan kecakapan meneliti perasaan orang dan kecakapan belajar.
14. Model pengembangan meditasi (meditation development)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk memusatkan kesadaran pemusatan diri. Proses pembelajaran dilakukan dengan menjelaskan tekhnik meditasi.
15. Model pengembangan sinektik (synectic development)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan daya kreatif akademik dan kemampuan imajinasi.
16. Model pengembangan pendidikan pertemuan (confluent eduacation)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk mempermudah peserta didik untuk mengabungkan semua aspek kesadaran guna mengembangkan tanggapan yang menyeluruh.
17. Model pengembangan psikosintesis (psychosynthesis development)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk memperoleh kepuasaan penggabungan suatu aspek kesadaran yang bertentangan.
Pengembangan sumber daya menusia (SDM) merupakan bagian dari ajaran islam, yang dari semula telah mengarah manusia untuk berupaya meningkatkan kualitas hidupnya yang dimulai dari pengembangan budaya kecerdasan. Ini berarti bahwa titik tolaknya adalah pendidikan yang akan mempersiapkan manusia itu menjadi makhluk individual yang bertanggung jawab dan mahluk sosial yang mempunyai rasa kebersamaan dalam mewujudkan kehidupan yang damai, tentram, tertib, dan maju, dimana moral kebaikan (kebenaran, keadilan, dan kasih sayang) dapat ditegalkan sehingga kesejahteraan lahir bati dapat merata dinikmati bersama.
Strategi adalah jantung dari tiap keputusan yang diambil kini dan menyangkut masa depan. Tiap strategi selalu dikaitkan dengan upaya mencapai sesuatu tujuan di masa depan, yang dekat maupun jauh. Tanpa tujuan yang ingin diraih, tidak perlu disusun strategi. Selanjutnya, suatu strategi hanya dapat disusun jika terdapat minimal dua pilihan. Tanpa itu, orang cukup menempuh satu-satunya alternatif yang ada dan dapat digali.
Adapun strategi yang dipilih oleh Langulung terdiri dari dua model, yaitu strategi pendidikan yang bersifat makro dan strategi pendidikan yang bersifat mikro.
A. Strategi Pendidikan yang Bersifat Makro
Strategi pendidikan yang bersifat makro biasa dilakukan oleh para pengambil keputusan dan pembuat rencana pendidik (aducation planner) atau dalam hal ini adalah pemerintah. Strategi makro ini memiliki cakupan luas dan bersifat umum, artinya bukan dilakukan oleh satu atau segelintir orang saja, namun melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Strategi yang diusulkan terdiri dari tiga komponen utama, yaitu tujuan, dasar, dan prioritas dalam tindakan.
1. Tujuan
Segala gagasan untuk merumuskan tujuan pendidikan di dunia Islam haruslah memperhitungkan bahwa kedatangan islam adalah permulaan baru bagi manusia. Islam datang untuk memperbaiki keadaan manusia dan menyempurnakan agama.
2. Dasar-dasar Pokok
Dasar-dasar pokok pendidikan islam, yaitu :
a. Keutuhan (syumuliyah)
Pendidikan islam haruslah bersifat utuh, artinya memperhatikan segala aspek manusia : badan, jiwa, akal, dan rohnya. Pendidikan dalam rangka pengembangan SDM, ditemukan al-Quran, menghadapi peserta didiknya dengan seluruh totalitas unsur-unsurnya. Al-Quran tidak memisah unsur jasmani dan rohani tetapi merangkaikan pembinaan jiwa dan pembinaa akal, sekaligus tidak mengabaikan jasmaninya
b. Keterpaduan
Kurikulum pendidikan islam hendaknya bersifat terpadu antara komponen yang satu dengan yang lain dengan memperhatikan hal berikut : (1). Pendidikan haruslah memberlakukan individu dengan memperhitungkan ciri kebribadianya : jasadnya, jiwa akal dan roh.(2).
c. Kesinambungan / Keseimbangan
Pendidikan islam haruslah bersifat kesinambungan dengan memperhatikan aspek-aspek berikut : 1) sistem pendidikan itu perlu memberi peluang belajar pada tiap tingkat umur, tingkat persekolahan dan setiap suasana.2) sistem pendidikan islam itu selalu memperbarui diri atau dinamis dengan perubahan yang terjadi.
d. Bersifat ilmiah
Pendidikan islam haruslah memandang sains dan tegnologi sebagai komponen terpenting dari peradaban modern, dan memberi perhatian khusus ke berbagai sains dan teknik modern dalam kurikulum dan berbagai aktivitas pendidikan, hanya ia harus sejalan dengan semangat islam.
e. Bersifat Prakital
Kurikulum pendidikan islam tidak hanya bisa bicara secara teoritis saja, namun ia harus dipraktekan. Karena ilmu tak akan berhasil jika dipraktekan atau realita.
3. Prioritas dalam tindakan
a. menyekolahkan semua anak yang mencapai usia sekolah, dan membuat rancangan agar mereka memperoleh pendidikan dan ketrampilan.
b. Penganekaragaman jalur pengembangan disemua tahap pendidikan dan pembimbingnya ke arah fleksibel.
c. Meninjau kembali materi dan metode pendidikan (kurikulum) supaya sesuai dengan semangat islam dan ajaran-ajaranya, dan bagi berbagai kebutuhan ekonomi, teknik, dan sosial.
d. Administrasi dan perencanaan. Pada tahap administrasi patutlah dimudahkan hubungan yang fleksibel pada administrasi, pembentukan teknisi-teknisi yang mampu, dan mempraktekan sistem desentralisasi.
B. Strategi Pendidikan yang Bersifat Mikro
Maksudnya dalam pelaksanaan strategi pendidikan yang bersifat mikro adalah dalam pelaksanaanya yaitu secara individu. Ruang lingkup strategi ini lebih menitikberatkan pada strategi yang harus dilakukan oleh individu seorang muslim pakar-pakar dalam bidang pendidikan memusatkan pada metode tazkiyah. Di antara metode tazkiyah adalah :
1) Sembahyang (shalat)
2) Puasa
3) Zakat
4) Haji
5) Membaca Al-Qur.an
6) Zikir
7) Bertafakur pada makhluk Allah
8) Mengingat kematian
9) Muroqabah, muhasabah, mujahadah, dan muatabah
10) Jihad, amar ma.ruf, dan nahi munkar
11) Khidmat dan tawadu
12) Mengetahui jalan masuk setan ke dalam jiwa dan menghalanginya
13) Mengetahui penyakit hati dan menghindarinya.
.
BAB III
KESIMPULAN
A. Metode dalam proses pendidikan islam, yaitu : Prinsip Memberiksn Suasana kegembiraan, Prinsip memberikan layanan dan santunan dengan lemah lembut, Prinsip kebermaknaan bagi anak didik, Psinsip Prasyarat , Prinsip Komunikasi Terbuka, Prinsip Pemberian Pengetahuan yang Baru, Prinsip Memberikan model Perilaku yang Baik, Prinsip Praktek (pengamalan) secara aktif, Prinsip-prinsip lainya.
B. Strategi yang bersifat makro terdiri dari tiga komponen utama, yaitu pertama, tujuan pendidikan Islam yang mencakup pembentukan insan shaleh dan masyarakat shaleh.Kedua, dasar-dasar pokok pendidikan Islam.
C. strategi yang bersifat mikro hanya terdiri dari satu komponen saja, yaitu tazkiyah al-nafs (pembersihan jiwa). Tazkiyah itu bertujuan membentuk tingkah laku baru yang dapat menyimbangkan roh, akal, dan badan seseorang sekaligus. Diantara metode tazkiyah tersebut ialah: shalat, puasa, zakat, haji, membaca al-Qur.an, zikir, tafakur,, jihad, amar ma.ruf nahi munkar, tawadhu,menghalangi pintu masuk setan ke dalam jiwa, dan menghindari penyakit hati.
D. Dalam konteks upaya peningkatan kualitas SDM, kita dapat berkata bahwa jika tujuan pengembangan SDM, terbatas pada upaya meningkatkan produksi dan pengembangan ekonomi, jika yang dimaksudkan dengan pengembangan SDM, adalah mewujudkan manusia seutuhnya untuk menyukseskan tugas kekhalifahan, maka keduanya harus diupayakan untuk dipadukan, yang bertujuan untuk mencapai keridhaan ilahi. Kualitas SDM tidak akan sempurna tanpa ketangguhan mental-spiritual keagamaan. Sebab, penguasaan iptek belaka tidaklah merupakan salah-satunya jaminan bagi kesejahteraan manusia secara keseluruhan
DAFTAR PUSTAKA
Hamruni. Strategi dan model pembelajaran aktif menyenangkan, Yogyakarta : fakultas tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009
Hanafiah. Konsep strategi pembelajaran, Bandung :Refika Aditama, 2009
Ihsan, Hamdani . Filsafat pendidikan islam , Bandung : Pustaka setia,1998
Jurusan kependidikan Islam. Antologi Kependidikan Islam , Yogyakarta: fakultas tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2010
Miarso, yusufhadi. Menyemai benih tegnologi pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Grub, 2009
Suryono, yoyon. Pengembangan sumber daya alam. Yogyakarta : Gama Media, 2008
Zaini, hisyam dkk. Strategi pembelajaran aktif diperguruan tinggi. Yogyakarta : CTSD, 2002
.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Filsafat Pendidikan
dengan dosen pengampu :
Prof. Dr. Abdul Rachman Assegaf
Oleh :
Yunita Fatma pertiwi 10470060
KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
TAHUN 2011/2012
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan islam mengemban tugas penting, yakni bagaimana mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar umat islam dapat berperan aktif di era globalisasi. Pengembangan SDM bukan persoalan yang gampang dan sederhana. Dala pendidikan, manusia adalah perencana, pelaku, pengendali serta tujuan dari pendidikan. Oleh karena itu pengembangan kualitas SDM merupakan prioritas utama yang harus ditingkatkan, sehingga dengan demikian ia dapat memiliki segala kemampuan yang dibutuhkan dalam pendidikan.
Upaya pengembangan dan peningkatan kualitas SDM dapat dilakukan melalui berbagai jalur, diantaranya melalui pendidikan. Pendidikan ini merupakan jalur peningkatan kualitas SDM yang lebih menekan pada pembentukan kualitas dasar, misalnya keimanan dan ketaqwaan, kepribadian, kecerdasan, kedisiplinan, kreativitas dsb . dalam hal pengembangan SDM, pendidikan memiliki strategis dan mempunyai peran penting sebagai suatu investasi dimasa depan. Karenan secara teoritis, pendidikan adalah dasar dari pertumbuhan ekonomi, dasar dari perkembangan sains dan tegnologi, mengurangi kemiskinan.
BAB II
PEMBAHASAN
HAKIKAT METODE PENDIDIKAN
A. Metode dalam proses pendidikan islam
Dalam proses pendidikan islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.
Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar-mengajar menuju tujuan pendidikan.
Dalam proses pendidikan islam, metode dapat dikatakan tepat-guna bila mengandung nilai-nilai intristik dan ekstrinstik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan islam.
Ada tiga aspek nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan islam yang hendak di realisasikan melalui metode yang mengandung watak dan relevansi, yaitu ; pertama, membentuk anak didik menjadi hamba Allah yang mengabdi kepada-Nya semata, dan kedua, bernilai edukatif yang mengacu pada petunjuk Al-Quran dan yang ketiga, ialagh berkaitan dengan motivasi dan kedisiplinan sesuai ajaran Al-quran yang disebut pahala dan siksaan.
Adapun prisnip-prinsip metodelogis yang dijadikan landasan psikologis untuk memperlancar proses kependidikan islam yang sejalan dengan ajaran islam adalah ;
1. Prinsip Memberiksn Suasana kegembiraan
Prinsip ini dapat dijabarkan dari sabda Nabi SAW. Kepada sahabat beliau untuk diutus untuk melakukan dakwah kepada Gubernur Romawi di Damaskus, yaitu Mu’azd Ibn Jabal dan Abu Musa Al=Asy’ari sebagai berikut :
Artinya : “ permudahlah mereka dan jangan mempersulit, gembirakanlah mereka dan jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan mereka menjauhi kamu”
Dari berbagai firman Allah yang menyuruh pada pendidik untul memberikan kegembiraan kepada orang-orang yang beriman., orang yang bersabar, orang yang berbuat kebaikan dan sebagainya.seperti firmanya :
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya : “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik bahwa mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya...” (QS. Al-Baqaraha ; 25)
2. Prinsip memberikan layanan dan santunan dengan lemah lembut
Firman Allah :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya : “Maka disebabkan rahmad dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka memohonlah ampun bagi mereka” (QS. Ali Imran : 159)
3. Prinsip kebermaknaan bagi anak didik
Artinya : “Berbicaralah kamu kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal pikiran mereka”
4. Psinsip Prasyarat
Untuk menarik minat anak didik diperlukan mukadimah dalam langkah-langkah mengajar bahan pengajaran baru yang dapat memadukan perhatian dan minat mereka ke arah bahan tersebut. Dimulai dan diberi contoh dari apa yang berada disekitar lingkungan.
5. Prinsip Komunikasi Terbuka
Guru mendorong anak didik untuk membuka diri terhadap segala hal atau bahan-pelajaran yang disajikan kepada mereka. Sehingga mereka dapat menyerapnya menjadi bahan apersepsi dalam pikiranya.
6. Prinsip Pemberian Pengetahuan yang Baru
Anak didik ditarik minat dan perhatianya pada bahan-bahan pengetahuan yang baru bagi mereka. Agar peserta didik selalu mendapat informasi yang baru, dan semakin bisa untuk beradaptasi dengan lingkunganya.
7. Prinsip Memberikan model Perilaku yang Baik
Anak didik dapat memperoleh contoh perilaku melalui pengamatan dan peniruan yang tepat-guna dalam proses belajar mengajar, misalnya seperti firman Allah :
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasullullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut (nama) Allah”
8. Prinsip Praktek (pengamalan) secara aktif
Mendorong anak didik untuk mengamalkan semua pengetahuan yang telah diperoleh dalam proses belajar mengajar, atau pengalaman dari keyakinan dan sikap yang mereka hayati dan pahami sehingga nilai-nilai yang telah ditransformasikan atau diinternalisasikan ke dalam diri manusia didik menghasilkan buah ynag bermanfaat bagi diri dan masyarakat sekitar
Firman Allah yang menunjukan pentingnya. Mengamalkan pelajaran yang telah mereka pahami dan hayati ialah seperti ayat-ayat Al-Quran sebagai berikut :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, menga[a kamu mengatakan apa yang tidak kamu berbuat. Amar besar kebencian di sisi allah bahwa kamu mengatakan apa-apa tetapi tidak kamu kerjakan” (QS. As-Saf:2-3)
9. Prinsip-prinsip lainya
Prinsip-prinsip lainya, yaitu prinsip kasih sayang dan prinsip bimbingan dan penyuluhan terhadap anak didik.
Sabda Nabi :
Artinya : “Tidaklah termasuk suatu golonganku orang yang tidak menyayangi kepada yang lebih muda (lebih kecil) dan tidak mengetahui kewajibanya terhadap yang tua (lebih besar)”
B. MODEL PENGEMBANGAN POTENSI DIRI DALAM MENINGKATKAN SDM
Berikut 17 model pengembangan potensi diri melalui berbagai model pembelajaran efektif yang ditawarkan oleh John P. Miller,
1. Model pengembangan ego (ego development)
Model yang dikenal sebagai pengembangan ego, tujuan pokoknya adalah bagaimana setiap krisis perkembangan peserta didik dapat dipecahkan secara efektif. Unruk dikembangkan suatu proses pembelajaran dengan cara mengenali tahapan perkembangan ego peserta didik, dan pembelajaran menyesuaikan dengan tahapan tesebut.
2. Model pengembangan jiwa (psychological education)
Model pengembangan kejiwaan bertujuan untuk merealisasikan kebebaan belajar. Proses pembelajaran dimulai dengan mengenali tahap perkembangan peserta didik, dan pembelajaran menyesuaikan dengan perkembangan tersebut. Semua itu dilakukan berdasarkan taksiran akibat yang akan terjadi dari setiap perkembangan jiwa, khususnya pada usia remaja. Dalam hal ini pendidik penting memahami akan kebutuhan peserta didik dan mengkaitkan kegiatan pembelajaran dengan kebutuhan mereka.
3. Model pengembangan jiwa sosial (psychosocial model)
Perkembangan ini bertujuan merealisasikan identitas pribadi dan kemandirian pesertaa didik guna mendorong kemampuanya berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain.
4. Model pengembangan moral (moral development)
Perkembangan ini bertujuan untuk menghindari tahap kemunduran dan mencapai kebebasan dari penalaran konvesional. Pendidik berperan menumbuhkan suasana diskusi yang terbuka dengan mendorong peserta didik melakukan penalaran yang kokoh.
5. Model pengembangan penjernihan nilai (values clarification)
Perkembangan ini bertujuan untuk menjelaskan nilai pribadi dalam memahami orang lain. Tugas pendidik adalah menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menggembirakan. Dengan demikian diharapkan peserta didik dapat saling bertukar nilai.
6. Model pengembangan identitas diri (edentity education)
Model pengenalan identitas diri bertujuan untuk menciptakan kesan diri peserta didik itu baik dan mampu mengendalikan diri dalam hubunganya dengan orang lain. Peran pendidik adalah memelihara perhatian peserta didik dalam keterkaitanya dengan materi kegiatan atau kurikulum.
7. Model perkembangan pertemuan kelas (classrom meeting)
Model pengembangan pertemuan kelas sesungguhnya adalah pengalaman pengambilan keputusan. Tujuan mengembangkan pengenalan diri melalui diskusi terhadap suatu problem
8. Model pengembangan bermain peran (role playing development)
Model ini bertujuan mengembangkan konsep diri yang positif, ketrampilan menyelesaikan masalah dan kekompakan kelompok. Peran pendidik adalah menciptakan suasana keterbukaan untuk uji coba peran dan mengikuti permainan peran.
9. Model pengembangan pengarahan diri (self-directed development)
Bertujuan mendorong peserta didik berfungsi secara penuh. Proses pembelajaran meliputi kegiatan menciptakan suasana terbuka dan setiap peserta didik menetukan sendiri pola belajarnya.
10. Model pengembangan pengarahan diri (communication development)
Yaitu suatu model latihan kepekaan berkomunikasi yang bertujuan untuk menumbuhkan kecakapan berempati, respek yang jujur, konfronsi dan penyikapan diri.
11. Model kepekaan pertimbangan (sensitivty consideration)
Yaitu model kepekaan memahami orang lain yang bertujuan menumbuhkan kepekaan, kebutuhan, dan perasaan orang lain.
12. Model pengembangan transaksi sosial (transactional analysis)
Yaitu suatu model yang bertujuan agar peserta didik cakap berkomunikasi secara terbuka bagi pertumbuhan diri pribadi setiap peserta didik.
13. Model pengembangan relasi kemanusiaan (human relation)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk meningkatkan kecakapan mendiagnosa dan berperan dalam kelompok dari setiap pesrta didik. Tujuanya adalah meningkatkan kecakapan meneliti perasaan orang dan kecakapan belajar.
14. Model pengembangan meditasi (meditation development)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk memusatkan kesadaran pemusatan diri. Proses pembelajaran dilakukan dengan menjelaskan tekhnik meditasi.
15. Model pengembangan sinektik (synectic development)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan daya kreatif akademik dan kemampuan imajinasi.
16. Model pengembangan pendidikan pertemuan (confluent eduacation)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk mempermudah peserta didik untuk mengabungkan semua aspek kesadaran guna mengembangkan tanggapan yang menyeluruh.
17. Model pengembangan psikosintesis (psychosynthesis development)
Yaitu suatu model yang bertujuan untuk memperoleh kepuasaan penggabungan suatu aspek kesadaran yang bertentangan.
Pengembangan sumber daya menusia (SDM) merupakan bagian dari ajaran islam, yang dari semula telah mengarah manusia untuk berupaya meningkatkan kualitas hidupnya yang dimulai dari pengembangan budaya kecerdasan. Ini berarti bahwa titik tolaknya adalah pendidikan yang akan mempersiapkan manusia itu menjadi makhluk individual yang bertanggung jawab dan mahluk sosial yang mempunyai rasa kebersamaan dalam mewujudkan kehidupan yang damai, tentram, tertib, dan maju, dimana moral kebaikan (kebenaran, keadilan, dan kasih sayang) dapat ditegalkan sehingga kesejahteraan lahir bati dapat merata dinikmati bersama.
Strategi adalah jantung dari tiap keputusan yang diambil kini dan menyangkut masa depan. Tiap strategi selalu dikaitkan dengan upaya mencapai sesuatu tujuan di masa depan, yang dekat maupun jauh. Tanpa tujuan yang ingin diraih, tidak perlu disusun strategi. Selanjutnya, suatu strategi hanya dapat disusun jika terdapat minimal dua pilihan. Tanpa itu, orang cukup menempuh satu-satunya alternatif yang ada dan dapat digali.
Adapun strategi yang dipilih oleh Langulung terdiri dari dua model, yaitu strategi pendidikan yang bersifat makro dan strategi pendidikan yang bersifat mikro.
A. Strategi Pendidikan yang Bersifat Makro
Strategi pendidikan yang bersifat makro biasa dilakukan oleh para pengambil keputusan dan pembuat rencana pendidik (aducation planner) atau dalam hal ini adalah pemerintah. Strategi makro ini memiliki cakupan luas dan bersifat umum, artinya bukan dilakukan oleh satu atau segelintir orang saja, namun melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Strategi yang diusulkan terdiri dari tiga komponen utama, yaitu tujuan, dasar, dan prioritas dalam tindakan.
1. Tujuan
Segala gagasan untuk merumuskan tujuan pendidikan di dunia Islam haruslah memperhitungkan bahwa kedatangan islam adalah permulaan baru bagi manusia. Islam datang untuk memperbaiki keadaan manusia dan menyempurnakan agama.
2. Dasar-dasar Pokok
Dasar-dasar pokok pendidikan islam, yaitu :
a. Keutuhan (syumuliyah)
Pendidikan islam haruslah bersifat utuh, artinya memperhatikan segala aspek manusia : badan, jiwa, akal, dan rohnya. Pendidikan dalam rangka pengembangan SDM, ditemukan al-Quran, menghadapi peserta didiknya dengan seluruh totalitas unsur-unsurnya. Al-Quran tidak memisah unsur jasmani dan rohani tetapi merangkaikan pembinaan jiwa dan pembinaa akal, sekaligus tidak mengabaikan jasmaninya
b. Keterpaduan
Kurikulum pendidikan islam hendaknya bersifat terpadu antara komponen yang satu dengan yang lain dengan memperhatikan hal berikut : (1). Pendidikan haruslah memberlakukan individu dengan memperhitungkan ciri kebribadianya : jasadnya, jiwa akal dan roh.(2).
c. Kesinambungan / Keseimbangan
Pendidikan islam haruslah bersifat kesinambungan dengan memperhatikan aspek-aspek berikut : 1) sistem pendidikan itu perlu memberi peluang belajar pada tiap tingkat umur, tingkat persekolahan dan setiap suasana.2) sistem pendidikan islam itu selalu memperbarui diri atau dinamis dengan perubahan yang terjadi.
d. Bersifat ilmiah
Pendidikan islam haruslah memandang sains dan tegnologi sebagai komponen terpenting dari peradaban modern, dan memberi perhatian khusus ke berbagai sains dan teknik modern dalam kurikulum dan berbagai aktivitas pendidikan, hanya ia harus sejalan dengan semangat islam.
e. Bersifat Prakital
Kurikulum pendidikan islam tidak hanya bisa bicara secara teoritis saja, namun ia harus dipraktekan. Karena ilmu tak akan berhasil jika dipraktekan atau realita.
3. Prioritas dalam tindakan
a. menyekolahkan semua anak yang mencapai usia sekolah, dan membuat rancangan agar mereka memperoleh pendidikan dan ketrampilan.
b. Penganekaragaman jalur pengembangan disemua tahap pendidikan dan pembimbingnya ke arah fleksibel.
c. Meninjau kembali materi dan metode pendidikan (kurikulum) supaya sesuai dengan semangat islam dan ajaran-ajaranya, dan bagi berbagai kebutuhan ekonomi, teknik, dan sosial.
d. Administrasi dan perencanaan. Pada tahap administrasi patutlah dimudahkan hubungan yang fleksibel pada administrasi, pembentukan teknisi-teknisi yang mampu, dan mempraktekan sistem desentralisasi.
B. Strategi Pendidikan yang Bersifat Mikro
Maksudnya dalam pelaksanaan strategi pendidikan yang bersifat mikro adalah dalam pelaksanaanya yaitu secara individu. Ruang lingkup strategi ini lebih menitikberatkan pada strategi yang harus dilakukan oleh individu seorang muslim pakar-pakar dalam bidang pendidikan memusatkan pada metode tazkiyah. Di antara metode tazkiyah adalah :
1) Sembahyang (shalat)
2) Puasa
3) Zakat
4) Haji
5) Membaca Al-Qur.an
6) Zikir
7) Bertafakur pada makhluk Allah
8) Mengingat kematian
9) Muroqabah, muhasabah, mujahadah, dan muatabah
10) Jihad, amar ma.ruf, dan nahi munkar
11) Khidmat dan tawadu
12) Mengetahui jalan masuk setan ke dalam jiwa dan menghalanginya
13) Mengetahui penyakit hati dan menghindarinya.
.
BAB III
KESIMPULAN
A. Metode dalam proses pendidikan islam, yaitu : Prinsip Memberiksn Suasana kegembiraan, Prinsip memberikan layanan dan santunan dengan lemah lembut, Prinsip kebermaknaan bagi anak didik, Psinsip Prasyarat , Prinsip Komunikasi Terbuka, Prinsip Pemberian Pengetahuan yang Baru, Prinsip Memberikan model Perilaku yang Baik, Prinsip Praktek (pengamalan) secara aktif, Prinsip-prinsip lainya.
B. Strategi yang bersifat makro terdiri dari tiga komponen utama, yaitu pertama, tujuan pendidikan Islam yang mencakup pembentukan insan shaleh dan masyarakat shaleh.Kedua, dasar-dasar pokok pendidikan Islam.
C. strategi yang bersifat mikro hanya terdiri dari satu komponen saja, yaitu tazkiyah al-nafs (pembersihan jiwa). Tazkiyah itu bertujuan membentuk tingkah laku baru yang dapat menyimbangkan roh, akal, dan badan seseorang sekaligus. Diantara metode tazkiyah tersebut ialah: shalat, puasa, zakat, haji, membaca al-Qur.an, zikir, tafakur,, jihad, amar ma.ruf nahi munkar, tawadhu,menghalangi pintu masuk setan ke dalam jiwa, dan menghindari penyakit hati.
D. Dalam konteks upaya peningkatan kualitas SDM, kita dapat berkata bahwa jika tujuan pengembangan SDM, terbatas pada upaya meningkatkan produksi dan pengembangan ekonomi, jika yang dimaksudkan dengan pengembangan SDM, adalah mewujudkan manusia seutuhnya untuk menyukseskan tugas kekhalifahan, maka keduanya harus diupayakan untuk dipadukan, yang bertujuan untuk mencapai keridhaan ilahi. Kualitas SDM tidak akan sempurna tanpa ketangguhan mental-spiritual keagamaan. Sebab, penguasaan iptek belaka tidaklah merupakan salah-satunya jaminan bagi kesejahteraan manusia secara keseluruhan
DAFTAR PUSTAKA
Hamruni. Strategi dan model pembelajaran aktif menyenangkan, Yogyakarta : fakultas tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009
Hanafiah. Konsep strategi pembelajaran, Bandung :Refika Aditama, 2009
Ihsan, Hamdani . Filsafat pendidikan islam , Bandung : Pustaka setia,1998
Jurusan kependidikan Islam. Antologi Kependidikan Islam , Yogyakarta: fakultas tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2010
Miarso, yusufhadi. Menyemai benih tegnologi pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Grub, 2009
Suryono, yoyon. Pengembangan sumber daya alam. Yogyakarta : Gama Media, 2008
Zaini, hisyam dkk. Strategi pembelajaran aktif diperguruan tinggi. Yogyakarta : CTSD, 2002
.
Langganan:
Postingan (Atom)